Satir. Ya,
satir, sebuah dinding pemisah dari kelompok siswa dengan siswi. Tiba-tiba saja
aku ingat, setelah lama tertimbun dalam karat ingatan yang menebal
berlapis-lapis.Maklum, memori satir sudah tergilas oleh 20 tahun lamanya. Kala itu aku masih memegang kukuh
janji seorang santri untuk tetap menaati aturan-aturan dalam pondok, mengagungkan
dawuh kyai dan bersabar dalam antrian
panjang kala wudlu, ambil makan, cuci piring dan mandi.
Mungkin
satir adalah penutup yang dimaknakan pengendalian diri terhadap keinginan untuk
berlama-lama menatap lawan jenis. Dengan
kebiasaan mata fisik diharapkan mata
hati juga terkendali. Pasalnya adalah : cinta, benci, pesona dan berbagai gelombang emosi bisa timbul karena
berawal dari mata, baru turun ke hati. Maka wajar jika langkah awal
adalah mengendalikan pandangan. Dengan begitu anggota tubuh yang lain akan
mengikuti. Ini hanya tafsiran
asal-asalan dariku, mohon pencerahan dari temen-teman yang lebih tahu. Walau
satir seringkali berlobang sana sini tetapi
makna satir tak lekang oleh waktu, minimal dalam ingatanku.
Terbayang
satir yang berlobang kecil, hanya cukup untuk satu mata buat menatap sasaran
intip di seberang sana. Sehabis
mengintip, untuk menutup dosa-dosa mata,
biasanya mereka menutup lobang dengan gumpalan kertas. Seperti tak
pernah mengintip, seakan tak pernah tergoda oleh wajah-wajah di seberang sana. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar