Sabtu, 29 September 2012

DI BALIK SATIR




Satir. Ya, satir, sebuah dinding pemisah dari kelompok siswa dengan siswi. Tiba-tiba saja aku ingat, setelah lama tertimbun dalam karat ingatan yang menebal berlapis-lapis.Maklum, memori satir sudah tergilas oleh 20 tahun  lamanya. Kala itu aku masih memegang kukuh janji seorang santri untuk tetap menaati aturan-aturan dalam pondok, mengagungkan dawuh kyai dan bersabar  dalam antrian panjang kala wudlu, ambil makan, cuci piring dan mandi.
Mungkin satir adalah penutup yang dimaknakan pengendalian diri terhadap keinginan untuk berlama-lama  menatap lawan jenis. Dengan kebiasaan mata fisik  diharapkan mata hati juga terkendali. Pasalnya adalah : cinta, benci, pesona  dan  berbagai gelombang emosi bisa  timbul karena  berawal dari mata, baru turun ke hati. Maka wajar jika langkah awal adalah mengendalikan pandangan. Dengan begitu anggota tubuh yang lain akan mengikuti.  Ini hanya tafsiran asal-asalan dariku, mohon pencerahan dari temen-teman yang lebih tahu. Walau satir seringkali berlobang sana sini tetapi  makna satir tak lekang oleh waktu, minimal dalam ingatanku.
Terbayang satir yang berlobang kecil, hanya cukup untuk satu mata buat menatap sasaran intip  di seberang sana. Sehabis mengintip, untuk menutup dosa-dosa mata,  biasanya mereka menutup lobang dengan gumpalan kertas. Seperti tak pernah mengintip, seakan tak pernah tergoda oleh wajah-wajah di seberang sana.  J









Tidak ada komentar:

Posting Komentar