Selasa, 03 Januari 2012

BANGKITKAN KEARIFAN LOKAL



Lebih  dari delapan puluh persen pembelajaran di sekolah mementingkan aspek rasionalitas  yang berisi hafalan , pemahaman konsep  rumus- rumus dan penguasaan bahasa asing, namun kering urusan moral , seni , budaya.  Setiap hari anak dijejali dengan materi tersebut tanpa tahu kapan teori- teori itu akan digunakan. Padahal sesungguhnya  di dalam hidup  bermasyarakat hanya sekitar 10 % saja ilmu atau teori itu dipakai,  selebihnya yang digunakan dalam bergaul di masyarakat  adalah moral dan   ahklaq  .
Tidak kita pungkiri bahwa untuk mengejar ketinggalan dalam bidang tehnologi dan informasi memang sangat penting memacu pengetahuan siswa dalam bidang iptek. Tetapi bukan berarti harus melupakan sisi budaya . Bukan berarti menyisihkan ajaran norma, budaya dan perilaku yang baik sebagai individu yang hidup di masayarakat. 
Kalau para pemerhati pendidikan mengatakan bahwa  jebolan sekolah kebanyakan   hanya bisa memamerkan  kepintarannya dalam berbagai lomba olimpiade sains di negeri sendiri atau di negara tetangga, itu sangat menyedihkan.  Semoga  kritik yang dihujamkan ke dunia pendidikan berkali kali oleh berbagai pihak  bisa  meberikan masukan yang  pada akirnya bisa   mencerahkan  sistem  kependidikan Indonesia . Menurut para pakar pendidikan orientasi pendidikan saat ini mengacu kepada hasil, sehingga indikator keberhasilan diukur dari  apa yang telah dicapai.  Lebih mengedepankan formalitas daripada kualitas. Untuk melihat apakah sebuah madrasah  bermutu atau tidak kita dipersilahkan  untuk melihat sederetan nilai Ujian Nasional para lulusannya. Entah nilai itu diperoleh dengan menyontek atau benar benar benar murni hasil kerja siswa itu tidak penting. Sehingga lahirlah sarjana yang bertitel mentereng tetapi berkualitas kurang memuaskan kendati dalam ijasahnya tertulis “lulus dengan sangat memuaskan.” Kiblat pendidikan selama bertahun tahun telah bergeser dari kultur Asia ( Cina ) yang mengedepankan proses belajar  menjadi ke arah Amerika Serikat yang hanya mematok hasil .
Gedung mewah beringkat dengan fasilitas berbasis tehnologi dengan tujuan utama mencetak para generasi yang tidak   gagap teknologi  ternyata  cenderung menjauhkan siswa dari akar budayanya sendiri. Belum lagi pekerjaan rumah (PR) yang menggunung membuat generasi masa kini perlahan dijauhkan dari masyarakat dimana dia tinggal. Kurang waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, tetangga, famili juga berinteraksi dengan alam se kitar. Didogma bahwa tehnologi adalah segalanya  sedang moralitas, budaya, seni dan religiusitas adalah urusan selanjutnya. Penyair WS rendra menggambarkannya dengan tepat sekali lewat sajak seonggok jagung, yang mengisahkan seonggok jagung yang tergeletak di sudut kamar. Seorang pemuda yang meringkuk di kamar dengan titel yang mentereng dari bangku kuliah tapi  sama sekali tak bisa berbuat banyak bagi dirinya . Ia hanya jadi seonggok jagung yang diam. Berberda dengan pemuda  yang bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat yang diibaratkan jagung yang ditanam petani, dipanen lalu ditumbuh dijadikan makanan  .
Kalau pendidikan hanya mengutamakan pengolahan pikiran yang logis  akan mencetak robot robot yang bekerja dan berpola pikir seperti mesin. Tak punya perasaan dan hati.  Tak ada empati terhadap sesama. Dunia yang sudah terlalu sesak dengan mesin apa akan ditambahi lagi dengan robot manusia robot ?
Melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan kurikulum yang dirancang untuk mengembalikan anak didik pada tempatnya berpijak dengan menjunjung kearifan lokal sebagai barometer pendidikan, jelas pemerintah ingin memperbaiki lulusan madrasah. Agar tidak menghasilkan robot manusia tetapi dapat menghasilkan manusia yang  memiliki akar budaya yang kuat , kususnya budaya setempat.
Sebenarnya seberapa besar arti  penting budaya bagi sebuah generasi bisa kita tengok kembali dalam sejarah ribun tahun yang lalu.  Bangsa bangsa di sekitar Timur tengah , jazirah India,  Tibet,  Mongolia dan Cina memiliki ajaran filsafat yang mendalam sehingga mereka tumbuh  menjadi bangsa yang kuat. Kita sebenarnya juga memiliki filsafat pemikiran yang mendalam , budaya yang sangat agung dan indah, bedanya kita menyepelekannya dan  mereka mengaplikasikannya dalam kehidupan. Hasilnya kita makin tertinggal dalam keterpurukan sebaliknya mereka tetap eksis menghadapi dampak globalisasi industri, ekonomi dan juga tehnologi. Bisa kita lihat Jepang yang memegang  erat budayanya mampu menjadi pionir tehnologi, produknya luber di belahan bumi manapun,  begitu juga Cina yang terkenal dengan harga barang- barangnya yang sangat murah.   Industri Jepang mengkombinasikan prinsip manajemen modern dengan kebiasaan kebiasaan positif budaya timur. Akoi Morita, presiden direktur Sony pernah mengemukakan bahwa misi penting dari manajemen di Jepang adalah membentuk hubungan yang sehat dengan pegawai, membina rasa kekeluargaan, senasib dan sepenanggungan. Bukankah sebenarnya kita punya filsafat kehidupan yang indah ini dalam gotong royong, tepo selira, rasa pakewuh, aja dumeh dan masih banyak lagi filsafat yang lain ?    Mengapa kita lebih percaya pada sistem kapitalis yang diusung dari barat yang tentu tidak cocok dengan masyarakat kita ? Sehingga kesejahteraan buruh terabaikan yang berimbas pada hancurnya perindustrian. Dalam western rasa senasip dan saling berbagi anatara bawahan dengan atasan tidak ada  lagi, posisi mitra berganti dengan posisi antara pelayan dengan majikan.
Mendidik masyarakat melalui budaya sudah dicontohkan oleh Sunan Kalijaga dengan sangat baik. Beliau memungut lokal genus yang ada pada masa masyarakat Jawa yang sangat akrab dengan kisah kisah yang berlatar belakang agama Hindu yakni Mahabarata. Lalu  memberikan sentuhan yang islami sehingga tak terasa nilai nilai islam merasuk dalam jiwa masyarakat melalui media  wayang. Berbagai karakter manusia berserta lakon yang diperankannya merupakan cerminan dari kehidupan manusia sehari hari, maka wayang sangat sesuai untuk generasi muda yang sedang berusaha menemukan siapa dirinya. Yang sering disebut pencarian jati diri, walau sebenarnya jati diri tidak perlu dicari karena potensi pengembangan kepribadian sudah ada dalam masing masing individu.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar