Lebih dari delapan
puluh persen pembelajaran di sekolah mementingkan aspek rasionalitas yang berisi hafalan , pemahaman konsep rumus- rumus dan penguasaan bahasa asing,
namun kering urusan moral , seni , budaya.
Setiap hari anak
dijejali dengan materi tersebut tanpa tahu kapan teori- teori itu akan
digunakan. Padahal sesungguhnya di dalam
hidup bermasyarakat hanya sekitar 10 %
saja ilmu atau teori itu dipakai,
selebihnya yang digunakan dalam bergaul di masyarakat adalah moral dan ahklaq
.
Tidak kita pungkiri bahwa
untuk mengejar ketinggalan dalam bidang tehnologi dan informasi memang sangat
penting memacu pengetahuan siswa dalam bidang iptek. Tetapi bukan berarti harus
melupakan sisi budaya . Bukan berarti menyisihkan ajaran norma, budaya dan
perilaku yang baik sebagai individu yang hidup di masayarakat.
Kalau para pemerhati pendidikan
mengatakan bahwa jebolan sekolah
kebanyakan hanya bisa memamerkan kepintarannya dalam berbagai lomba olimpiade
sains di negeri sendiri atau di negara tetangga, itu sangat menyedihkan. Semoga
kritik yang dihujamkan ke dunia pendidikan berkali kali oleh berbagai
pihak bisa meberikan masukan yang pada akirnya bisa mencerahkan
sistem kependidikan Indonesia .
Menurut para pakar pendidikan orientasi pendidikan saat ini mengacu kepada
hasil, sehingga indikator keberhasilan diukur dari apa yang telah dicapai. Lebih mengedepankan formalitas daripada
kualitas. Untuk melihat apakah sebuah madrasah
bermutu atau tidak kita dipersilahkan
untuk melihat sederetan nilai Ujian Nasional para lulusannya. Entah
nilai itu diperoleh dengan menyontek atau benar benar benar murni hasil kerja
siswa itu tidak penting. Sehingga lahirlah sarjana yang bertitel mentereng
tetapi berkualitas kurang memuaskan kendati dalam ijasahnya tertulis “lulus
dengan sangat memuaskan.” Kiblat pendidikan selama bertahun tahun telah bergeser
dari kultur Asia ( Cina ) yang mengedepankan proses belajar menjadi ke arah Amerika Serikat yang hanya
mematok hasil .
Gedung mewah beringkat dengan
fasilitas berbasis tehnologi dengan tujuan utama mencetak para generasi yang
tidak gagap teknologi ternyata
cenderung menjauhkan siswa dari akar budayanya sendiri. Belum lagi
pekerjaan rumah (PR) yang menggunung membuat generasi masa kini perlahan
dijauhkan dari masyarakat dimana dia tinggal. Kurang waktu untuk berkomunikasi
dengan keluarga, tetangga, famili juga berinteraksi dengan alam se kitar.
Didogma bahwa tehnologi adalah segalanya
sedang moralitas, budaya, seni dan religiusitas adalah urusan
selanjutnya. Penyair WS rendra menggambarkannya dengan tepat sekali lewat sajak seonggok jagung, yang mengisahkan
seonggok jagung yang tergeletak di sudut kamar. Seorang pemuda yang meringkuk
di kamar dengan titel yang mentereng dari bangku kuliah tapi sama sekali tak bisa berbuat banyak bagi
dirinya . Ia hanya jadi seonggok jagung yang diam. Berberda dengan pemuda yang bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat
bagi dirinya dan masyarakat yang diibaratkan jagung yang ditanam petani,
dipanen lalu ditumbuh dijadikan makanan
.
Kalau pendidikan hanya
mengutamakan pengolahan pikiran yang logis
akan mencetak robot robot yang bekerja dan berpola pikir seperti mesin.
Tak punya perasaan dan hati. Tak ada
empati terhadap sesama. Dunia yang sudah terlalu sesak dengan mesin apa akan
ditambahi lagi dengan robot manusia robot ?
Melalui Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang merupakan kurikulum yang dirancang untuk mengembalikan
anak didik pada tempatnya berpijak dengan menjunjung kearifan lokal sebagai
barometer pendidikan, jelas pemerintah ingin memperbaiki lulusan madrasah. Agar
tidak menghasilkan robot manusia tetapi dapat menghasilkan manusia yang memiliki akar budaya yang kuat , kususnya
budaya setempat.
Sebenarnya
seberapa besar arti penting budaya bagi
sebuah generasi bisa kita tengok kembali dalam sejarah ribun tahun yang
lalu. Bangsa bangsa di sekitar Timur
tengah , jazirah India, Tibet, Mongolia dan Cina memiliki ajaran filsafat
yang mendalam sehingga mereka tumbuh
menjadi bangsa yang kuat. Kita sebenarnya juga memiliki filsafat
pemikiran yang mendalam , budaya yang sangat agung dan indah, bedanya kita
menyepelekannya dan mereka
mengaplikasikannya dalam kehidupan. Hasilnya kita makin tertinggal dalam
keterpurukan sebaliknya mereka tetap eksis menghadapi dampak globalisasi
industri, ekonomi dan juga tehnologi. Bisa kita lihat Jepang yang memegang erat budayanya mampu menjadi pionir
tehnologi, produknya luber di belahan bumi manapun, begitu juga Cina yang terkenal dengan harga
barang- barangnya yang sangat murah.
Industri Jepang mengkombinasikan prinsip manajemen modern dengan
kebiasaan kebiasaan positif budaya timur. Akoi Morita, presiden direktur Sony
pernah mengemukakan bahwa misi penting dari manajemen di Jepang adalah
membentuk hubungan yang sehat dengan pegawai, membina rasa kekeluargaan,
senasib dan sepenanggungan. Bukankah sebenarnya kita punya filsafat kehidupan
yang indah ini dalam gotong royong, tepo
selira, rasa pakewuh, aja dumeh dan masih banyak lagi filsafat yang lain
? Mengapa kita lebih percaya pada
sistem kapitalis yang diusung dari barat yang tentu tidak cocok dengan masyarakat
kita ? Sehingga kesejahteraan buruh terabaikan yang berimbas pada hancurnya
perindustrian. Dalam western rasa senasip dan saling berbagi anatara bawahan
dengan atasan tidak ada lagi, posisi
mitra berganti dengan posisi antara pelayan dengan majikan.
Mendidik
masyarakat melalui budaya sudah dicontohkan oleh Sunan Kalijaga dengan sangat
baik. Beliau memungut lokal genus
yang ada pada masa masyarakat Jawa yang sangat akrab dengan kisah kisah yang
berlatar belakang agama Hindu yakni Mahabarata. Lalu memberikan sentuhan yang islami sehingga tak
terasa nilai nilai islam merasuk dalam jiwa masyarakat melalui media wayang. Berbagai karakter manusia berserta
lakon yang diperankannya merupakan cerminan dari kehidupan manusia sehari hari,
maka wayang sangat sesuai untuk generasi muda yang sedang berusaha menemukan
siapa dirinya. Yang sering disebut pencarian jati diri, walau sebenarnya jati
diri tidak perlu dicari karena potensi pengembangan kepribadian sudah ada dalam
masing masing individu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar