Selasa, 03 Januari 2012

BANGKITKAN KEARIFAN LOKAL



Lebih  dari delapan puluh persen pembelajaran di sekolah mementingkan aspek rasionalitas  yang berisi hafalan , pemahaman konsep  rumus- rumus dan penguasaan bahasa asing, namun kering urusan moral , seni , budaya.  Setiap hari anak dijejali dengan materi tersebut tanpa tahu kapan teori- teori itu akan digunakan. Padahal sesungguhnya  di dalam hidup  bermasyarakat hanya sekitar 10 % saja ilmu atau teori itu dipakai,  selebihnya yang digunakan dalam bergaul di masyarakat  adalah moral dan   ahklaq  .
Tidak kita pungkiri bahwa untuk mengejar ketinggalan dalam bidang tehnologi dan informasi memang sangat penting memacu pengetahuan siswa dalam bidang iptek. Tetapi bukan berarti harus melupakan sisi budaya . Bukan berarti menyisihkan ajaran norma, budaya dan perilaku yang baik sebagai individu yang hidup di masayarakat. 
Kalau para pemerhati pendidikan mengatakan bahwa  jebolan sekolah kebanyakan   hanya bisa memamerkan  kepintarannya dalam berbagai lomba olimpiade sains di negeri sendiri atau di negara tetangga, itu sangat menyedihkan.  Semoga  kritik yang dihujamkan ke dunia pendidikan berkali kali oleh berbagai pihak  bisa  meberikan masukan yang  pada akirnya bisa   mencerahkan  sistem  kependidikan Indonesia . Menurut para pakar pendidikan orientasi pendidikan saat ini mengacu kepada hasil, sehingga indikator keberhasilan diukur dari  apa yang telah dicapai.  Lebih mengedepankan formalitas daripada kualitas. Untuk melihat apakah sebuah madrasah  bermutu atau tidak kita dipersilahkan  untuk melihat sederetan nilai Ujian Nasional para lulusannya. Entah nilai itu diperoleh dengan menyontek atau benar benar benar murni hasil kerja siswa itu tidak penting. Sehingga lahirlah sarjana yang bertitel mentereng tetapi berkualitas kurang memuaskan kendati dalam ijasahnya tertulis “lulus dengan sangat memuaskan.” Kiblat pendidikan selama bertahun tahun telah bergeser dari kultur Asia ( Cina ) yang mengedepankan proses belajar  menjadi ke arah Amerika Serikat yang hanya mematok hasil .
Gedung mewah beringkat dengan fasilitas berbasis tehnologi dengan tujuan utama mencetak para generasi yang tidak   gagap teknologi  ternyata  cenderung menjauhkan siswa dari akar budayanya sendiri. Belum lagi pekerjaan rumah (PR) yang menggunung membuat generasi masa kini perlahan dijauhkan dari masyarakat dimana dia tinggal. Kurang waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, tetangga, famili juga berinteraksi dengan alam se kitar. Didogma bahwa tehnologi adalah segalanya  sedang moralitas, budaya, seni dan religiusitas adalah urusan selanjutnya. Penyair WS rendra menggambarkannya dengan tepat sekali lewat sajak seonggok jagung, yang mengisahkan seonggok jagung yang tergeletak di sudut kamar. Seorang pemuda yang meringkuk di kamar dengan titel yang mentereng dari bangku kuliah tapi  sama sekali tak bisa berbuat banyak bagi dirinya . Ia hanya jadi seonggok jagung yang diam. Berberda dengan pemuda  yang bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat yang diibaratkan jagung yang ditanam petani, dipanen lalu ditumbuh dijadikan makanan  .
Kalau pendidikan hanya mengutamakan pengolahan pikiran yang logis  akan mencetak robot robot yang bekerja dan berpola pikir seperti mesin. Tak punya perasaan dan hati.  Tak ada empati terhadap sesama. Dunia yang sudah terlalu sesak dengan mesin apa akan ditambahi lagi dengan robot manusia robot ?
Melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan kurikulum yang dirancang untuk mengembalikan anak didik pada tempatnya berpijak dengan menjunjung kearifan lokal sebagai barometer pendidikan, jelas pemerintah ingin memperbaiki lulusan madrasah. Agar tidak menghasilkan robot manusia tetapi dapat menghasilkan manusia yang  memiliki akar budaya yang kuat , kususnya budaya setempat.
Sebenarnya seberapa besar arti  penting budaya bagi sebuah generasi bisa kita tengok kembali dalam sejarah ribun tahun yang lalu.  Bangsa bangsa di sekitar Timur tengah , jazirah India,  Tibet,  Mongolia dan Cina memiliki ajaran filsafat yang mendalam sehingga mereka tumbuh  menjadi bangsa yang kuat. Kita sebenarnya juga memiliki filsafat pemikiran yang mendalam , budaya yang sangat agung dan indah, bedanya kita menyepelekannya dan  mereka mengaplikasikannya dalam kehidupan. Hasilnya kita makin tertinggal dalam keterpurukan sebaliknya mereka tetap eksis menghadapi dampak globalisasi industri, ekonomi dan juga tehnologi. Bisa kita lihat Jepang yang memegang  erat budayanya mampu menjadi pionir tehnologi, produknya luber di belahan bumi manapun,  begitu juga Cina yang terkenal dengan harga barang- barangnya yang sangat murah.   Industri Jepang mengkombinasikan prinsip manajemen modern dengan kebiasaan kebiasaan positif budaya timur. Akoi Morita, presiden direktur Sony pernah mengemukakan bahwa misi penting dari manajemen di Jepang adalah membentuk hubungan yang sehat dengan pegawai, membina rasa kekeluargaan, senasib dan sepenanggungan. Bukankah sebenarnya kita punya filsafat kehidupan yang indah ini dalam gotong royong, tepo selira, rasa pakewuh, aja dumeh dan masih banyak lagi filsafat yang lain ?    Mengapa kita lebih percaya pada sistem kapitalis yang diusung dari barat yang tentu tidak cocok dengan masyarakat kita ? Sehingga kesejahteraan buruh terabaikan yang berimbas pada hancurnya perindustrian. Dalam western rasa senasip dan saling berbagi anatara bawahan dengan atasan tidak ada  lagi, posisi mitra berganti dengan posisi antara pelayan dengan majikan.
Mendidik masyarakat melalui budaya sudah dicontohkan oleh Sunan Kalijaga dengan sangat baik. Beliau memungut lokal genus yang ada pada masa masyarakat Jawa yang sangat akrab dengan kisah kisah yang berlatar belakang agama Hindu yakni Mahabarata. Lalu  memberikan sentuhan yang islami sehingga tak terasa nilai nilai islam merasuk dalam jiwa masyarakat melalui media  wayang. Berbagai karakter manusia berserta lakon yang diperankannya merupakan cerminan dari kehidupan manusia sehari hari, maka wayang sangat sesuai untuk generasi muda yang sedang berusaha menemukan siapa dirinya. Yang sering disebut pencarian jati diri, walau sebenarnya jati diri tidak perlu dicari karena potensi pengembangan kepribadian sudah ada dalam masing masing individu.






















Senin, 26 Desember 2011

MENGAKSES INTUISI, MENAGKAP ILHAM


Intuisi adalah pengetahuan langsung dan cepat tentang sesuatu tanpa menggunakan rasio dan  alat alat indera. Oleh para filosof intuisi telah dianggap sumber pengetahuan yang benar dan pasti.  Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang melalui tahapan berfikir ilmiah seperti perumusan masalah,   eksperimen,  hipotesa,  dan kesimpulan serta lahirnya suatu teori, intuisi   memberdayakan kemampuan yang berasal dari dalam diri manusia.  Sehingga seorang akan   mampu melihat kejadian yang tak tertangkap oleh kelima inderanya,  maka intuisi sering disebut indera ke -enam.  Dengan intuisi manusia mampu melihat segala hal yang tidak dapat dilihat oleh mata kepalanya dengan mata batinnya.

Di barat intuisi yang pada waktu pesatnya  perkembangan ilmu pengetahuan belum diakui kebenarannya , maka setelah berbagai  eksperimen  dalam ilmu pengetahuan mengalami ketidak konsistenan hasil dari proses pemikiran rasio ,  maka intuisi mulai dilirik para ilmuwan. Padahal pada saat itu dunia timur telah lebih dulu  menaruh kepercayaan pada intiutif.  Bahkan intuisi merupakan memiliki banyak kelebihan dibandingkan pemikiran berdasarkan rasio.  Daintaranya, intuisi tidak membutuhkan banyak waktu dalam mengetahui atau memutuskan suatu masalah.  Jika dalam pemikiran rasio harus melalui berbagai tahapan proses yang melelahkan seperti dasar teori,  eksperimen, analisa , kesimpulan dan perbandingan dengan teori atau  hukum yang telah ada,  maka dalam intuisi  tahap -tahap itu bisa dilalui hanya dalam waktu yang singkat. Sebab seseorang yang telah dikaruniai kemampuan intuisi   tidak perlu menjalani proses pembelajaran tetapi justeru ia  diberikan kefahaman langsung dari Tuhan.  Karena itu intuisi juga sering disebut sebagai ilham,  suatu pengetahuan yang diberikan kepada manusia tertentu yang bukan nabi. Jika wahyu diberikan kepada para Nabi, karamah kepada wali Allah maka intuisi adalah ilham yang diberikan kepada manusia awam.
Begitu besar kekuatan intuisi sehingga para ilmuwan dan praktisi di berbagai bidang berupaya untuk melatih dirinya sehingga  mempunyai kemampuan untuk manangkap intuisi. Terbukti intuisi dapat menyelesaikan masalah yang kelihatannya sangat sulit dipecahkan dalam berbagai jalinan sosial antar orang perorang. Dalam bidang bisnis intuisi sering dipakai untuk memberikan keyakinan pada diri sendiri dalam langkah langkah menjalankan bisnis.  Sehingga intuisi dapat memberikan keuntungan secara materi  yang berlipat lipat. Karena intuisi dapat menuntun langkah- langkah dalam meniti keberhasilan.
Bagaimana intuisi bekerja ?
Intuisi  merupakan mekanisme yang ada dalam tubuh kita yang bisa mengantarkan pada semangat,  hasrat dan kebahagiaan yang hakiki, karena intuisi dipandu oleh kekuatan murni dari jiwa . Karena itu jawaban oleh intuisi sering datang ke dalam pertanyaan- pertanyaan hidup lewat refleksi diri. Pada sebagian kecil orang  sejak lahir telah dikaruniai kepekaan untuk mengenal dan mendengarkan suara intuisi yang ada dalam dirinya, tetapi selebihnya adalah orang orang yang perlu belajar dan melatih dirinya untuk mengenal intuisi.
Doa  dan  meditasi adalah cara untuk mengurangi kecepatan dan kegiatan otak ,  agar kita mampu  mendengarkan suara hening dari dalam diri. Yang harus kita tahu bahwa aktivitas shalat merupakan bentuk ibadah yang mengandung unsur penyembahan, meditasi dan doa.  Jawaban jawaban intuisi  tidak selalu masuk begitu saja dalam pikiran dalam bentuk yang utuh pada saat berdoa atau meditasi. Mungkin kita menemukannya berkembang secara perlahan di dalam kesadaran kita selama beberapa hari atau beberapa minnggu setelah kita berdoa.
Seperti yang diuraikan oleh Lynn A Robinson, M.Ed dalam bukunya tentang bagimana cara menemukan intuisi dalam diri kita, maka intuisi lebih banyak diperoleh oleh orang yang dapat menciptakan self talk yang positif.  Jadi bagaimana seseorang bisa memotivasi dirinya sendiri melalui kata kata yang hangat penuh harapan. Bukan kecurigaan yang kelam tentang hari yang akan dilaluinya.  Ini berarti intuisi bisa bangkit jika kita bersikap baik sangka terhadap Tuhan. Bagimana Tuhan akan memberi sesuatu yang kita inginkan bila dalam hati kita tidak ada gambaran tentang berhasilnya keinginan tersebut? Inilah diantaranya unsur dalam doa, yakni berani memberi harapan atau menggambarkan keinginan yang kita minta dalam alam pikiran kita, baru Allah  akan mengabulkan. Jadi doa bukan sekedar ucapan yang berhenti di bibir, tetapi merupakan kesatuan hasrat, kemauan, pengharapan dan tujuan tujuan yang jelas tergambar dalam pikiran dan hati kita. Lynn A Robinson menulis bahwa kita sebaiknya memikirkan dan mendeskrepsikan dengan jelas seperti apa kehidupan yang kita inginkan nantinya. Kalau perlu buat gambar dan gunting gambar dari majalah yang melukiskan kehidupan yang ingin kita ciptakan. Cara  ini juga banyak dianjurkan  dan dipakai oleh para motivator dalam bidang apapun. Bisnis, pendidikan, spiritual ataupun politik. Kekuatan hati dan pikiran kita akan menuntun pada lukisan yang kita buat hingga harapan itu tercapai.
Sikap baik sangka akan hadir bila kita telah memahami bahwa Allah itu maha Pengasih. Artinya segala nikmat yang telah kita terima lahir dari sifat rahim Allah. Kerap kali kita menghitung kemalangan denganmesin hitung tetapi saat menghitung kenikmatan kita hanya menggunakan jari. Rasa syukur yang kita miliki menjadi bekal timbulnya harapan harapan yang baru. Ibarat benih, syaukur akan tumbuh menjadi pohon, dahan dan daun syukur atas nikmat nikmat yang datang berikutnya. Setelah pohon syukur bersemi semakin lempanglah jalan menuju keinginan dan terkabulnya doa doa kita. Riset menunjukkan bahwa orang orang yang paling berbahagia adalah orang yang bersyukur dan berterimakasih dengan semua yang mereka miliki. Apapun kondisi mereka. Jadi kita tak perlu menunda bersyukur hingga keinginan terpenuhi, tetapi nikmati proses pemberian dari Tuhan dengan rasa syukur setiap saat.
Sir Isaac Newton telah berulangkali memikirkan tentang kemungkinan adanya gaya dan massa benda  bumi, tetapi ia baru menemukannya ketika buah apel yang jatuh dari pohon menimpanya saat bersantai di kebun. Mengapa bukan pada saat ia memikirkan dan melakukan berbagai eksperimen ? itulah intuisi, ia datang justeru pada saat otak dalam kondisi tenang dan santai.  Ketika itu jalinan pemikiran yang telah dilakukannya sekian lama baru  membentuk satu kesimpulan ketika intuis menyentuh ranah kefahaman terhadap satu pengetahuan.  Tak terfikir sebelumnya ia akan menemukan ide itu , yang menjadi sumber pengetahuan bagi generasi selanjutnya selama bertahun tahun kemudian.  Penggagas minuman dalam kemasan yang sekarang bermerek Aqua adalah sosok yang dulu dianggap kurang kerjaan karena mengemas air putih dalam kemasan dan dijual pada banyak orang .  ”Siapa yang mau minum air putih dalam botol . Tak mungkin ada orang yang mau membelinya .”Itu pendapat sinis pada saat perintis  itu memulai usahanya. Setelah bertahun tahun akhirnya  air minum dalam kemasan itu menjadi bisnis yang besar dan banyak ditiru oleh pengusaha yang lain. Intuisi bekerja melampaui pemikiran logis ,  melewati jarak dan  waktu.

AGAR HUTANG TAK MENJERAT PNS



Hutang dan Pegawai Negeri Sipil  tidak dapat dipisahkan. Seperti api dan panasnya, seperti sungai dan alirannya, begitu canda seorang teman yang kadung kejerat hutang.  Di mana ada SK PNS maka sudah dapat dipastikan akan dititipkan di bank karena tak kerasan di rumah si pemilik.   Inilah kenyataan , karena  memang kurang memadainya  gaji PNS , sehingga harus ditutup dengan pinjaman agar semua kebutuhan tercukupi. Ditambah iming iming kemudahan berhutang yang ditawarkan oleh bank dan agen agen penjualan , maka berhutang kemudian menjadi gaya hidup seorang PNS.
Ada yang bilang hutang membuat  tidak tenang , tetapi ada juga yang sudah telanjur banyak berhutang sehingga ia menghibur dirinya dengan bilang bahwa tanpa hutang hidup tidak akan bersemangat. Tak ada yang buruk dari hutang karena Nabipun  pernah berhutang dan bahkan menjelang wafatnya  baju perangnya masih tergadai pada orang Yahudi. Yang menjadi masalah adalah jika hutang itu membebani dan membuat hidup tak lagi nyaman . Tanpa menyakiti orang atau berbuat kejahatan seseorang bisa saja membuat dirinya masuk “penjara” hidup dengan banyak menumpuk hutang sehingga kesulitan mengembalikan.  Malam tidak dapat tidur dan siang takut bertemu orang.
Maka agar tak terperosok dalam penjara, setiap PNS perlu mengetahui dan mempraktekkan manajemen keuangannya. Dimana tujuannya   sebenarnya sederhana saja, yakni   mengefektifkan pengeluaran seefisien mungkin sehingga penghasilan yang ada cukup untuk membuat hidup sejahtera dan terbebas dari jerat hutang.  Ada empat hal dalam mamajemen keuangan yang sebaiknya diperhatikan :
  1. Menginvestaris / membuat neraca pendapatan dan pengeluaran, 
  2. Pola  hidup yang tidak terbawa arus konsumtif
  3. Memberikan hak fakir miskin .  
  4. Melek terhadap investasi jangka panjang untuk menambah penghasilan.
Menginventarisir jumlah pendapatan dan pengeluaran berguna untuk melihat dengan jelas apa saja pos pos pengeluaran yang menjadi kebutuhan seorang PNS setiap bulan dan berapa sumber pendapatanya .  Dari pendapatan yang bersal dari gaji dan usaha sampingan lainnya lalu   dibandingkan dengan kolom pengeluaran , akan kita dapati gambaran kekuatan keuangan secara obyektif.
Selanjutnya ketika dana telah digunakan maka akan tampaklah kesehatan keuangan. Jika sebuah perusahaan punya ukuran  untuk menyatakan apakah perusahaan itu  sehat atau tidak maka demikian juga keuangan seorang PNS. Ukuran sederhana sehat tidaknya keuangan dapat dilihat dari prosentase  likuiditas ( kemampuan membayar hutang  jangka pendek) ,   solvabilitas  (kemampuan membayar hutang jangka panjang ) dan rentabilitas  ( kemampuan menabung dan melakukan investasi).
            Mengapa rencana anggaran rumah tangga   yang sudah tersususun  rapi di atas kertas sering tidak dapat dilaksanakan ? Jawabanya tentu saja  karena banyak kebutuhan yang tak terduga tiba tiba nongol. Inilah saatnya kesabaran kita diuji.   Jangan mainkan perasaan jika tak ingin jatuh dalam “pasak lebih besar daripada tiang”. Hanya rasio yang boleh kita gunakan saat berhubungan dengan pengeluaran anggaran.  Mana saja pengeluaran yang penting, kurang penting, tidak penting dan pengeluaran yang dapat ditunda. Yang terpenting, enyahkan perasaan dalam meneliti anggaran . Di sinilah sebenarnya ruh dari manajeman keuangan. Apakah kita bisa mengerem keinginan untuk tidak membeli baju baru , misalnya. Yang sebenarnya bisa kita tunda atau nekat membelinya demi gengsi dan terseret dalam hidup yang terlalu komsumtif. Tujuan dari penyusunan anggaran tak lain adalah untuk membantu kita dalam menyeimbangkan kondisi keuangan yang nyata dengan keinginan- keinginan yang lebih condong pada pemborosan.
Hampir setiap orang beranggapan bahwa gaji yang dibawa pulang boleh dibelanjakan sepenuhnya pada bulan itu juga, atau bahkan dalam detik  itu juga. Padahal sebenarnya rizki yang diterimanya itu,  di dalamnya ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi sehingga tercipta apa yang disebut efisien anggaran. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf tatkala mengetahui bahwa di negerinya akan terjadi paceklik selama tujuh tahun berturut turut. Dengan ketelitian dan kesabaran beliau menciptakan pola hidup hemat dan menyisihkan sebagian gandum hasil panen untuk disimpan sebagai tabungan bahan makanan. Sehingga ketika masa paceklik yang ditakutkan itu datang rakyat tidak kelaparan. Jadi dalam gaji hari ini, ada kewajiban pokok yang harus dibayar berupa hutang, kredit , zakat, infak atau shodaqoh rutin. Setelah itu barulah gaji dapat dibagi dalam pos pos kebutuhan makan, transportasi, perlindungan kesehatan dan cadangan. Jika kita berniat  untuk menabung  maka jangan ambil akir bulan. Hari itu juga ketika amplop gaji baru diterima ,  ambil sekalian untuk ditabung, karena seberapapun uang yang kita pegang niscaya tak kan  tersisa  nantinya.
Kendati mengutamakan   rasio dalam penggunaan uang bukan berarti kita menjadi  kikir. Kewajiban untuk mensucikan harta lewat zaat, infak atau shodaqoh harus kita masukkan dalam kewajiban rutin   yang segera akan dilaksanakan begitu gaji diterima.  Secara psikologis ini mendisiplinkan kita agar tak menunda- nunda zakat untuk segera diberikan pada golongan yang berhak menerima. Karena seringkali banyaknya uang dan penundaan membuat pemilik harta  merasa sayang  untuk mengeluarkan zakat. Inilah yang disebutkan dalam Al Quran sebagai , “orang yang suka menghitung hitung.”Sehingga  karena hitungannya  yang terlalu njelimet maka mereka tidak jadi mengeluarkan zakat.
Kesadaran akan kekuatan keuangan akan menggiring pada pemikiran untuk  melakukan usaha guna  menambah penghasilan. Sehingga ia mempunyai tujuan jangka panjang yang dicita citakan.  Tak masalah apakah ia akan menggunakan jasa bank ( dengan meminjam) untuk memaksa dirinya berinvestasi ataukah menyimpan tabungan itu dari sedikit demi sedikit setiap bulan dan memakainya jika telah tersedia dana yang dirasa cukup. Islam sangat menghargai orang yang membelanjakan hartanya secara efesien , diantaranya dengan menggunakannya untuk memajukan ekonomi dirinya sendiri, keluarga atau mungkin masyarakat sekitar. Dan jelas bahwa gaya hidup konsumtif yang hanya mementingkan kebutuhan sesaat sangat tidak disukai Islam karena termasuk bertindak mubadzir dan melamapaui batas .  Memang tidak mudah untuk memulai sebuah usaha guna  menarik rizki. Tetapi penerimaan  gaji PNS yang tetap memberi peluang yang baik untuk merencanakan dan mengatur wirausaha yang akan dijalankan. Minimal, ini  lebih mudah dibandingkan dengan pekerja yang berpendapatan tidak tetap setiap bulannya.
 (Artikel ini dimuat di majalah intern Depag)

Senin, 19 Desember 2011

SASTRA DI SEKOLAH




Apresiasi sastra di Indonesia rendah, begitu dikatakan Max lane dalam seminar yang bertema “Pramoedya di Asia Tenggara” selasa 19 mei 2009 di Yogyakarta ( KR,24 mei 09). Max Lane ,seorang Indonesianis asal Austaralia ini  menyayangkan bahwa di Indonesia karya- karya sastra dan  tulisan para tokoh seperti Sukarno, Syahrir dan lainnya tidak diajarkan di sekolah. Hanya diajarkan sebatas siapa penulisnya dan judul, tidak dibedah dan didiskusikan secara mendalam. Dengan tidak dimasukkannya sastra di sekolah  mengakibatkan rendahnya apresiasi dan pemahaman kebangsaan Indonesia di benak siswa sebagai generasi penerus bangsa.  Hal ini berimbas pada stabilitas nasional bangsa yang rapuh.  Karya Pramoedya Ananta Toer,  katanya,  merupakan salah satu contoh yang kurang mendapatkan apresiasi di negeri  sendiri. Meski namanya cukup menggema namun hanya satu prosen  masyarakat Indonesia yang pernah membaca karyanya. Padahal di negeri tetangga yakni  Singapura , Filipina dan Malaysia karya yang telah diterjemakan dalam bahasa Inggris tersebut begitu digemari dan laris terjual . Karya karyanya mulai dari Bumi manusia sampai Rumah kaca , memperlihatkan kebangkitan Indonesia. Pramoedya  merupakan sejarawan yang paling radikal serta pelopor pembaharuan yang menganalisa sejarah Indonesia.
Mencermati apa yang dikatakan oleh Max tersebut   bagi penulis yang ikut berkecimpung dalam  dunia pendidikan , lantas timbul suatu pemikiran bahwa pengajaran sastra memang perlu diberikan dengan porsi yang lebih banyak  di sekolah dan  madrasah . Bukan sekedar diselipkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia seperti pada kurikulum  yang tengah kita laksanakan sekarang .  Ini karena  begitu jauh daya jangkau dunia sastra sehingga stabilitas suatu negarapun masih berkaitan erat   sastra .   Ungkapan kejujuran  dari seorang yang bukan warga asli Indonesia ini  membuat kita prihatin , menyaksikan  bangsa kita   kurang menghargai karya putra  bangsa sendiri,  padahal  jelas karya itu adalah karya yang begitu berbobot   terbukti di negara yang lebih “melek sastra ”  menjadi sesuatu yang bermakna, menjadi guru sekaligus referensi yang mahal.
Bagaimana siswa kita bisa berapresiasi terhadap karya sastra jika mengenal sastra saja hanya kulitnya ? Apalagi untuk mencintai , itu sungguh sulit dicapai jika tidak ada perhatian dari para pendidik dan pembuat kebijakan di bidang pendidikan.   Sastra menjadi barang  yang antik dan  tak banyak yang menyentuhnya mungkin karena orang memandang sastra adalah ranah  yang sulit dipahami karena  penuh dengan kaidah kaidah penulisan yang rumit. Atau juga sistem yang tidak mendukung anak- anak bangsa bersentuhan dengan sastra, misal orde baru yang dulu memang  ketat menyeleksi berbagai  buah pemikiran  yang berkaitan dengan perubahan sosial.  Indonesia adalah satu satunya negara yang tidak memasukan pengajaran sastra dalam kurikulum pengajaran di sekolah, ini jelas merupakan tembok penghalang dunia sastra dengan generasi penerus bangsa.
Dalam literasi budaya di negara kita sastra hanya dijadikan pajangan untuk  hiasan , kurang dipercaya untuk menjadi salah satu unsur pembangunan bangsa melalui pengembangan kepribadian .  Padahal sastra sangat potensial untuk menjadi warna dan penggerak kehidupan bangsa menuju kepada kemajuan.  Dalam berinteraksi  dengan sesamanya  maupun dengan  alam sekitar,  manusia akan menemukan nilai- nilai yang bisa digunakan untuk meraih kehidupan yang lebih baik, kristal dari nilai nilai itu terkumpul dalam  sastra. Jadi sastra adalah keluaran konstruksi budaya yang sudah dan sedang terjadi di masyarakat. Sebuah produk yang subyektif yang merefleksikan kondisi yang ada. Karena sastra adalah manifestasi dari keberadaan budaya masyarakat itu sendiri .Dimana ada manusia di situ pula sastra tumbuh. Memisahkna sastra dengan manusia berarti memisahkan manusia dari kebutuhan jiwanya.
 Sastra tentu saja sarat dengan estetika dan keindahan karena dunia sastra adalah dunia imajinasi yang bersentuhan dengan kelembutan jiwa.  Bicara dengan menggunakan  bahasa sastra berarti mengajak pembaca atau penikmat sastra untuk bicara melalui hati . Masuk dalam “dialog “ sastra ibarat mengajak seorang sahabat untuk memasuki sebuah taman yang penuh dengan bunga bermekaran.  Diiringi angin yang bertiup sepoi , cericit manja burung burung dan gemerisik jernih air yang mengalir , kita ajak sahabat duduk di bangku taman . Lalu bercerita tentang kesedihan yang menindih hatinya, kadang  suka cita yang membuat hidupnya bagai nyanyian merdu, atau  kegelisaan karena rindu pada kesejukan kasih Ilahi ,  bahkan tentang harga- harga kebutuhan pokok   yang terus mencekik leher  bisa di”curhat’kan di bangku taman. Sastra menciptakan ruang tersendiri sehingga antara penikmat  dan  pembuat karya  dipertemukan dalam suasana yang santai , tanpa terkesan  menggurui  tapi pembuat karya  bisa mempengaruhi pembaca. Tanpa merasa belajar tapi sesungguhnya pembaca telah menerima makna . 
Sastra adalah refleksi jiwa  setiap pembuatnya . Juga jawaban dari  pertanyaan pertanyaan yang diajukan imajinasinya . Dengan membaca  sastra  terbukalah ruang batin yang sedang dirasakan dan  ditawarkan  oleh penulisnya. Semangat Chairil Anwar untuk tetap menatap dunia  tergambar dalam “…aku ingin hidup seribu tahun lagi .” Suatu nutrisi batin  yang bisa dijadikan penguat dikala mental siswa jaman sekarang sedang   melempem.  Impian penyair besar itu memang terwujud,  terbukti karya- karyanya hidup sampai kini, menggema di setiap penikmat puisi- puisinya , mengalirkan darah perjuangan di nadi nadi kehidupan . Ruang imajinasi ini bagi anak- anak adalah sebentuk impian tentang dirinya.   Setiap anak yang hidup di rumah  mewah sampai di gubuk reot  mempunyai impian  meski mungkin impian itu sangat sederhana.  Betapa bahagia mereka  bila impian dan angan angan mereka kita berikan ruang untuk mendeskrepsikannya  dalam bentuk karya sastra. Namun bila tidak diarahkan imajinasi mereka bisa saja liar  menabrak norma atau tersumbat  di dalam   jiwanya.
 Puisi- puisi yang bersemangat kebangssaan dapat menimbulkan gairah nasionalisme pada siswa , terutama bagi anak-anak  usia madrasah ibtidaiyah dimana keceriaan mewarnai tiap langkahnya.   Cinta tanah air bisa disegarkan lagi dengan cara  membawa para siswa  terbang ke tahun dicetuskannya sumpah pemuda dimana pada saat  itu  atmosfer bumi Indonesia penuh dengan kobaran semangat kemerdekaan dan persatuan. Lihatlah semangat kebangsaan yang digaungkan Muh Yamin, bapak yang aktif dalam pergerakan nasional,  ahli sejarah , budayawan dan tokoh Sumpah Pemuda  dalam puisinya .
Lihatlah kelapa melambai lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai berai
Mendengar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengajari ayah dan ibu
Indonesia namanya, tanah airku.
Tanahku berderai seberang menyeberang
Mengapung di air malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kembang
Sejak malam di hari kelam
Sampai purnama terang benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menumpang
Selama berteduh di dalam nan lapang

Tanah darah nusa-india
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi di atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai  bercerai badan dan naywa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air Indonesia
Menengok peran sastra di dalam sejarah, kita   dapati bahwa  sastra erat kaitannya dengan perjuangan  Islam di tanah Arab.  Surat surat yang dikirimkan kepada raja- raja untuk bekerjasama atau mengajak pada jalan Islam ditulis dengan syair  yang indah . Ini tentu saja berpengaruh pada psikologis sehingga sentuhan keindahan yang sesuai dengan ajaran Al Quran perlahan menjadi oase dan daya tarik bagi para penguasa yang garang  pada saat itu.   Syair yang dahulu banyak digunakan untuk memuja kelebihan suku mereka sendiri dan para berhala ,  di tangan umat Islam dimuliakan  fungsinya menjadi alat untuk berdakwah. Bahkan dalam perang salib kemenangan umat Islam diantaranya karena dukungan syair syair yang membakar semangat jihad.  Setelah  Nabi wafat pada peringatan kelahiran dibuatlah syair melalui  lomba yang kemudian  lahirlah  kitab Al barzanji yang sampai sekarang sering kita baca. Di dalamnya berisi sanjungan terhadap kemuliaan aklaq nabi ,  sejarah perjuangan serta riwayat singkat kelahiran beliau  yang dituangkan dalam  syair Arab . Di  sekitar Jawa dan Malaka sastra yang berkembang pada abad 17 menurut isinya dibedakan dalam beberapa jenis, antara lain hikayat,  suluk, babad dan syair . Hikayat dapat kita lihat pada karya Rawaun, Amir hamzah dan Si Miskin dan Hang Tuah. Sedang suluk yang merupakan kitab yang membahas tasawuf misalnya Malang Sumirang dan wujil. Babad misalnya  Sejarah Melayu dan Tanah Jawi serta Si Burung Pingai karya Hamzah Fansuri adalah  contoh syair.
Untuk memberikan pengajaran sastra yang baik di madrasah tentu diperlukan kondisi yang memungkinkan berkembangnya pelajaran sastra pada siswa. Antara lain kurikulum yang mendukung,   pendidik  profesional  yang mempunyai kecintaan terhadap sastra dan metode pengajaran yang membangkitkan minat anak terhadap sastra. Selain itu fasilitas yang berupa buku- buku sastra hendaknya disediakan karena bagaimanapun tingginya teori sastra bila tidak diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan dengan terarah maka tidak akan berguna. Buku  karya sastra adalah kiblat yang bisa memberikan gambaran riil sebuah karya , sebagai bahan referensi dan juga latihan berapresiasi dalam pembelajaran.   Menurut referensi di Jepang sastra telah diberikan sejak tingkatan sekolah dasar . Tiap- tiap anak diberikan buku kusus yang digunakan untuk mengarang, dimana anak bebas berkreasi dan menuangkan idenya pada buku tersebut. Hasilnya setelah usia sepuluh tahun mereka sudah bisa membuat komik sederhana. Wajar jika kemudian komik Jepang mendapat penggemar dari berbagai penjuru negara.  Di Amerika buku buku sastra dibedah secara langsung kepada siswa yang usianya sesuai untuk pemahaman karya tersebut, sehingga mengapresiasikan karya sastra bagi anak setingkat  sekolah menengah  menjadi tugas yang relatif mudah untuk diselesaikan . Sedang di Indonesia,  kurikulum yang memberi kesempatan cukup  untuk hidupnya sastra di sekolah saja belum dibuat. Semoga menjadi perhatian para pembuat  kebijakan di bidang pendidikan