Senin, 26 Desember 2011

AGAR HUTANG TAK MENJERAT PNS



Hutang dan Pegawai Negeri Sipil  tidak dapat dipisahkan. Seperti api dan panasnya, seperti sungai dan alirannya, begitu canda seorang teman yang kadung kejerat hutang.  Di mana ada SK PNS maka sudah dapat dipastikan akan dititipkan di bank karena tak kerasan di rumah si pemilik.   Inilah kenyataan , karena  memang kurang memadainya  gaji PNS , sehingga harus ditutup dengan pinjaman agar semua kebutuhan tercukupi. Ditambah iming iming kemudahan berhutang yang ditawarkan oleh bank dan agen agen penjualan , maka berhutang kemudian menjadi gaya hidup seorang PNS.
Ada yang bilang hutang membuat  tidak tenang , tetapi ada juga yang sudah telanjur banyak berhutang sehingga ia menghibur dirinya dengan bilang bahwa tanpa hutang hidup tidak akan bersemangat. Tak ada yang buruk dari hutang karena Nabipun  pernah berhutang dan bahkan menjelang wafatnya  baju perangnya masih tergadai pada orang Yahudi. Yang menjadi masalah adalah jika hutang itu membebani dan membuat hidup tak lagi nyaman . Tanpa menyakiti orang atau berbuat kejahatan seseorang bisa saja membuat dirinya masuk “penjara” hidup dengan banyak menumpuk hutang sehingga kesulitan mengembalikan.  Malam tidak dapat tidur dan siang takut bertemu orang.
Maka agar tak terperosok dalam penjara, setiap PNS perlu mengetahui dan mempraktekkan manajemen keuangannya. Dimana tujuannya   sebenarnya sederhana saja, yakni   mengefektifkan pengeluaran seefisien mungkin sehingga penghasilan yang ada cukup untuk membuat hidup sejahtera dan terbebas dari jerat hutang.  Ada empat hal dalam mamajemen keuangan yang sebaiknya diperhatikan :
  1. Menginvestaris / membuat neraca pendapatan dan pengeluaran, 
  2. Pola  hidup yang tidak terbawa arus konsumtif
  3. Memberikan hak fakir miskin .  
  4. Melek terhadap investasi jangka panjang untuk menambah penghasilan.
Menginventarisir jumlah pendapatan dan pengeluaran berguna untuk melihat dengan jelas apa saja pos pos pengeluaran yang menjadi kebutuhan seorang PNS setiap bulan dan berapa sumber pendapatanya .  Dari pendapatan yang bersal dari gaji dan usaha sampingan lainnya lalu   dibandingkan dengan kolom pengeluaran , akan kita dapati gambaran kekuatan keuangan secara obyektif.
Selanjutnya ketika dana telah digunakan maka akan tampaklah kesehatan keuangan. Jika sebuah perusahaan punya ukuran  untuk menyatakan apakah perusahaan itu  sehat atau tidak maka demikian juga keuangan seorang PNS. Ukuran sederhana sehat tidaknya keuangan dapat dilihat dari prosentase  likuiditas ( kemampuan membayar hutang  jangka pendek) ,   solvabilitas  (kemampuan membayar hutang jangka panjang ) dan rentabilitas  ( kemampuan menabung dan melakukan investasi).
            Mengapa rencana anggaran rumah tangga   yang sudah tersususun  rapi di atas kertas sering tidak dapat dilaksanakan ? Jawabanya tentu saja  karena banyak kebutuhan yang tak terduga tiba tiba nongol. Inilah saatnya kesabaran kita diuji.   Jangan mainkan perasaan jika tak ingin jatuh dalam “pasak lebih besar daripada tiang”. Hanya rasio yang boleh kita gunakan saat berhubungan dengan pengeluaran anggaran.  Mana saja pengeluaran yang penting, kurang penting, tidak penting dan pengeluaran yang dapat ditunda. Yang terpenting, enyahkan perasaan dalam meneliti anggaran . Di sinilah sebenarnya ruh dari manajeman keuangan. Apakah kita bisa mengerem keinginan untuk tidak membeli baju baru , misalnya. Yang sebenarnya bisa kita tunda atau nekat membelinya demi gengsi dan terseret dalam hidup yang terlalu komsumtif. Tujuan dari penyusunan anggaran tak lain adalah untuk membantu kita dalam menyeimbangkan kondisi keuangan yang nyata dengan keinginan- keinginan yang lebih condong pada pemborosan.
Hampir setiap orang beranggapan bahwa gaji yang dibawa pulang boleh dibelanjakan sepenuhnya pada bulan itu juga, atau bahkan dalam detik  itu juga. Padahal sebenarnya rizki yang diterimanya itu,  di dalamnya ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi sehingga tercipta apa yang disebut efisien anggaran. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf tatkala mengetahui bahwa di negerinya akan terjadi paceklik selama tujuh tahun berturut turut. Dengan ketelitian dan kesabaran beliau menciptakan pola hidup hemat dan menyisihkan sebagian gandum hasil panen untuk disimpan sebagai tabungan bahan makanan. Sehingga ketika masa paceklik yang ditakutkan itu datang rakyat tidak kelaparan. Jadi dalam gaji hari ini, ada kewajiban pokok yang harus dibayar berupa hutang, kredit , zakat, infak atau shodaqoh rutin. Setelah itu barulah gaji dapat dibagi dalam pos pos kebutuhan makan, transportasi, perlindungan kesehatan dan cadangan. Jika kita berniat  untuk menabung  maka jangan ambil akir bulan. Hari itu juga ketika amplop gaji baru diterima ,  ambil sekalian untuk ditabung, karena seberapapun uang yang kita pegang niscaya tak kan  tersisa  nantinya.
Kendati mengutamakan   rasio dalam penggunaan uang bukan berarti kita menjadi  kikir. Kewajiban untuk mensucikan harta lewat zaat, infak atau shodaqoh harus kita masukkan dalam kewajiban rutin   yang segera akan dilaksanakan begitu gaji diterima.  Secara psikologis ini mendisiplinkan kita agar tak menunda- nunda zakat untuk segera diberikan pada golongan yang berhak menerima. Karena seringkali banyaknya uang dan penundaan membuat pemilik harta  merasa sayang  untuk mengeluarkan zakat. Inilah yang disebutkan dalam Al Quran sebagai , “orang yang suka menghitung hitung.”Sehingga  karena hitungannya  yang terlalu njelimet maka mereka tidak jadi mengeluarkan zakat.
Kesadaran akan kekuatan keuangan akan menggiring pada pemikiran untuk  melakukan usaha guna  menambah penghasilan. Sehingga ia mempunyai tujuan jangka panjang yang dicita citakan.  Tak masalah apakah ia akan menggunakan jasa bank ( dengan meminjam) untuk memaksa dirinya berinvestasi ataukah menyimpan tabungan itu dari sedikit demi sedikit setiap bulan dan memakainya jika telah tersedia dana yang dirasa cukup. Islam sangat menghargai orang yang membelanjakan hartanya secara efesien , diantaranya dengan menggunakannya untuk memajukan ekonomi dirinya sendiri, keluarga atau mungkin masyarakat sekitar. Dan jelas bahwa gaya hidup konsumtif yang hanya mementingkan kebutuhan sesaat sangat tidak disukai Islam karena termasuk bertindak mubadzir dan melamapaui batas .  Memang tidak mudah untuk memulai sebuah usaha guna  menarik rizki. Tetapi penerimaan  gaji PNS yang tetap memberi peluang yang baik untuk merencanakan dan mengatur wirausaha yang akan dijalankan. Minimal, ini  lebih mudah dibandingkan dengan pekerja yang berpendapatan tidak tetap setiap bulannya.
 (Artikel ini dimuat di majalah intern Depag)

1 komentar:

  1. salam kenal....artikelnya cocok tuk guru yg belum sertifikasi...hhehe. ijin copas ya bu

    ijin share juga: Solusi sehat mencegah berbagai penyakit degeneratif: hipertensi,diabetes,stroke,gagal ginjal,liver,dll dengan NECTURA....www.nectura-yogya.blogspot.com

    BalasHapus