Hutang
dan Pegawai Negeri Sipil tidak dapat
dipisahkan. Seperti api dan panasnya, seperti sungai dan alirannya, begitu
canda seorang teman yang kadung kejerat hutang.
Di mana ada SK PNS maka sudah dapat dipastikan akan dititipkan di bank
karena tak kerasan di rumah si pemilik.
Inilah kenyataan , karena memang
kurang memadainya gaji PNS , sehingga harus
ditutup dengan pinjaman agar semua kebutuhan tercukupi. Ditambah iming iming kemudahan
berhutang yang ditawarkan oleh bank dan agen agen penjualan , maka berhutang
kemudian menjadi gaya hidup seorang PNS.
Ada
yang bilang hutang membuat tidak tenang
, tetapi ada juga yang sudah telanjur banyak berhutang sehingga ia menghibur
dirinya dengan bilang bahwa tanpa hutang hidup tidak akan bersemangat. Tak ada
yang buruk dari hutang karena Nabipun pernah berhutang dan bahkan menjelang wafatnya
baju perangnya masih tergadai pada orang
Yahudi. Yang menjadi masalah adalah jika hutang itu membebani dan membuat hidup
tak lagi nyaman . Tanpa menyakiti orang atau berbuat kejahatan seseorang bisa saja
membuat dirinya masuk “penjara” hidup dengan banyak menumpuk hutang sehingga
kesulitan mengembalikan. Malam tidak
dapat tidur dan siang takut bertemu orang.
Maka
agar tak terperosok dalam penjara, setiap PNS perlu mengetahui dan
mempraktekkan manajemen keuangannya. Dimana tujuannya sebenarnya sederhana saja, yakni mengefektifkan pengeluaran seefisien mungkin
sehingga penghasilan yang ada cukup untuk membuat hidup sejahtera dan terbebas
dari jerat hutang. Ada empat hal dalam
mamajemen keuangan yang sebaiknya diperhatikan :
- Menginvestaris
/ membuat neraca pendapatan dan pengeluaran,
- Pola hidup yang tidak terbawa arus konsumtif
- Memberikan
hak fakir miskin .
- Melek
terhadap investasi jangka panjang untuk menambah penghasilan.
Menginventarisir
jumlah pendapatan dan pengeluaran berguna untuk melihat dengan jelas apa saja
pos pos pengeluaran yang menjadi kebutuhan seorang PNS setiap bulan dan berapa
sumber pendapatanya . Dari pendapatan
yang bersal dari gaji dan usaha sampingan lainnya lalu dibandingkan dengan kolom pengeluaran , akan
kita dapati gambaran kekuatan keuangan secara obyektif.
Selanjutnya
ketika dana telah digunakan maka akan tampaklah kesehatan keuangan. Jika sebuah
perusahaan punya ukuran untuk menyatakan
apakah perusahaan itu sehat atau tidak
maka demikian juga keuangan seorang PNS. Ukuran sederhana sehat tidaknya keuangan
dapat dilihat dari prosentase likuiditas
( kemampuan membayar hutang jangka
pendek) , solvabilitas (kemampuan membayar hutang jangka panjang )
dan rentabilitas ( kemampuan menabung
dan melakukan investasi).
Mengapa
rencana anggaran rumah tangga yang sudah tersususun rapi di atas kertas sering tidak dapat
dilaksanakan ? Jawabanya tentu saja karena banyak kebutuhan yang tak terduga tiba
tiba nongol. Inilah saatnya kesabaran kita diuji. Jangan mainkan perasaan jika tak ingin jatuh
dalam “pasak lebih besar daripada tiang”. Hanya rasio yang boleh kita gunakan
saat berhubungan dengan pengeluaran anggaran. Mana saja pengeluaran yang penting, kurang
penting, tidak penting dan pengeluaran yang dapat ditunda. Yang terpenting,
enyahkan perasaan dalam meneliti anggaran . Di sinilah sebenarnya ruh dari
manajeman keuangan. Apakah kita bisa mengerem keinginan untuk tidak membeli
baju baru , misalnya. Yang sebenarnya bisa kita tunda atau nekat membelinya
demi gengsi dan terseret dalam hidup yang terlalu komsumtif. Tujuan dari
penyusunan anggaran tak lain adalah untuk membantu kita dalam menyeimbangkan
kondisi keuangan yang nyata dengan keinginan- keinginan yang lebih condong pada
pemborosan.
Hampir
setiap orang beranggapan bahwa gaji yang dibawa pulang boleh dibelanjakan
sepenuhnya pada bulan itu juga, atau bahkan dalam detik itu juga. Padahal sebenarnya rizki yang
diterimanya itu, di dalamnya ada hak dan
kewajiban yang harus dipenuhi sehingga tercipta apa yang disebut efisien
anggaran. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf tatkala mengetahui bahwa di
negerinya akan terjadi paceklik selama tujuh tahun berturut turut. Dengan
ketelitian dan kesabaran beliau menciptakan pola hidup hemat dan menyisihkan
sebagian gandum hasil panen untuk disimpan sebagai tabungan bahan makanan.
Sehingga ketika masa paceklik yang ditakutkan itu datang rakyat tidak
kelaparan. Jadi dalam gaji hari ini, ada kewajiban pokok yang harus dibayar
berupa hutang, kredit , zakat, infak atau shodaqoh rutin. Setelah itu barulah
gaji dapat dibagi dalam pos pos kebutuhan makan, transportasi, perlindungan
kesehatan dan cadangan. Jika kita berniat
untuk menabung maka jangan ambil
akir bulan. Hari itu juga ketika amplop gaji baru diterima , ambil sekalian untuk ditabung, karena
seberapapun uang yang kita pegang niscaya tak kan tersisa
nantinya.
Kendati
mengutamakan rasio dalam penggunaan uang bukan berarti kita
menjadi kikir. Kewajiban untuk
mensucikan harta lewat zaat, infak atau shodaqoh harus kita masukkan dalam
kewajiban rutin yang segera akan
dilaksanakan begitu gaji diterima.
Secara psikologis ini mendisiplinkan kita agar tak menunda- nunda zakat
untuk segera diberikan pada golongan yang berhak menerima. Karena seringkali
banyaknya uang dan penundaan membuat pemilik harta merasa sayang untuk mengeluarkan zakat. Inilah yang
disebutkan dalam Al Quran sebagai , “orang yang suka menghitung
hitung.”Sehingga karena hitungannya yang terlalu njelimet maka mereka tidak jadi
mengeluarkan zakat.
Kesadaran
akan kekuatan keuangan akan menggiring pada pemikiran untuk melakukan usaha guna menambah penghasilan. Sehingga ia mempunyai
tujuan jangka panjang yang dicita citakan. Tak masalah apakah ia akan menggunakan jasa
bank ( dengan meminjam) untuk memaksa dirinya berinvestasi ataukah menyimpan
tabungan itu dari sedikit demi sedikit setiap bulan dan memakainya jika telah
tersedia dana yang dirasa cukup. Islam sangat menghargai orang yang
membelanjakan hartanya secara efesien , diantaranya dengan menggunakannya untuk
memajukan ekonomi dirinya sendiri, keluarga atau mungkin masyarakat sekitar.
Dan jelas bahwa gaya hidup konsumtif yang hanya mementingkan kebutuhan sesaat
sangat tidak disukai Islam karena termasuk bertindak mubadzir dan melamapaui
batas . Memang tidak mudah untuk memulai
sebuah usaha guna menarik rizki. Tetapi penerimaan
gaji PNS yang tetap memberi peluang yang
baik untuk merencanakan dan mengatur wirausaha yang akan dijalankan. Minimal,
ini lebih mudah dibandingkan dengan
pekerja yang berpendapatan tidak tetap setiap bulannya.
(Artikel ini dimuat di majalah intern Depag)
salam kenal....artikelnya cocok tuk guru yg belum sertifikasi...hhehe. ijin copas ya bu
BalasHapusijin share juga: Solusi sehat mencegah berbagai penyakit degeneratif: hipertensi,diabetes,stroke,gagal ginjal,liver,dll dengan NECTURA....www.nectura-yogya.blogspot.com