Rabu, 14 Desember 2011

AGAR MAPEL PAI TIDAK KERING



Dengan adanya rencana  pemerintah  bahwa mulai  tahun 2010 Pendidikan Agama Islam  dimasukan dalam mapel yang di UN-kan seperti yang diberitakan Rindang pada edisi April 2009 lalu,  maka  ada satu tantangan yang cukup menggairahkan bagi para guru Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan profesionalitas dalam  proses pembelajaran  . Minimal mengupayakan agar pelajaran PAI , dalam bahasan ini Fiqih , bisa memotivasi anak untuk giat mengkaji materi- materi yang termuat di dalamnya dan tergerak untuk tekun menjalankan ibadah sesuai dengan aturan  yang benar. 
 
Selama ini penguasaan materi  beserta   teknis pelaksanaan  syariat ( shalat, puasa ,zakat ,haji dan lainnya )  menjadi indikator pencapaian  pembelajaran Fiqih. Dan ini memang  sangat perlu bahkan wajib dikuasai guru dan dipahami murid. Saking seriusnya kadang Fiqih  tampil sebagai mapel yang kering dan kaku karena hanya bersentuhan dengan dalil, hafalan dan praktek saja. Padahal   jika pembelajaran   Fiqih terkesan kering  akan membuat   siswa mudah bosan .  Akibatnya  akan lebih buruk lagi kalau perlahan siswa siswa madrasah   menjauh dari Fiqih,  padahal dasar dasar ilmu syariat  ini merupakan   pintu pertama yang harus dilalui oleh seorang muslim agar  bisa mengamalkan ajaran agama  dengan benar  dan sungguh sungguh.  Maka upaya guru    untuk membuat    Fiqih  tampil sebagai mata pelajaran yang  menarik   perlu dilakukan .

Bila kita memandang  peta wilayah  Fiqih secara lebih luas maka akan kita dapati area  yang merupakan wilayah pinggiran yang biasanya kurang terjamah, tetapi justeru  sangat penting untuk dikaji  dan dijadikan alat motivasi  pembelajaran dan pelaksanaan syariat. Wilayah ini berpenghuni hal- hal yang berkaitan dengan  manfaat pelaksanaan ibadah , makna filosofis,  hikmah ibadah dan rahasia alam  yang bertautan dengan Fiqih. Sebagai contoh kita mengambil  bahasan  tentang shalat. Mungkin anak rajin menjalankan shalat lima waktu karena memang dari dahulu nenek moyang  dan lingkungan sekitar melaksanakannya.   Tidak terfikir , apa manfaatnya baginya  dan “alasan” ilmiah kenapa Allah merintahkan manusia untuk shalat. Anak hanya sekedar rubuh- rubuh gedhang sehingga jangan heran manakala dia berpindah ke  lingkungan yang tidak kenal shalat kemungkinan besar  iapun meninggalkannya  dengan enteng saja.  Seperti tak ada beban , tak ada perbedaan antara menjalankan atau tidak.  Tak ada makna yang ia peroleh  dari ritual ibadah  yang selama bertahun tahun dilakukan  itu.  Bagai melihat buah durian kita sekedar tahu bahwa durian  itu berduri maka kita harus hati hati bila memegangnya  tapi   tidak beruasaha mencicipi  rasa lezat buah dibalik kulitnya.   Tentu saja durian tidak memberikan kepuasan ( ekstase ) yang membuat kita ketagihan untuk selalu memburunya jika lezatnya   tidak pernah singgah  di lidah.  Justeru duri duri shalat yang menuntut kedisiplinan akan ketepatan  jadwal waktu shalat akan terasa membebani , dan terkesan menjadi semacam perintah yang dogmatis belaka. Itu karena  ibadah  yang dijalankan hanya menyentuh kulit , tidak sampai buahnya. Memang shalat adalah sesuatu yang sakral sehingga pelaksanaannyapun harus sesuai dengan rukun, syarat dan seperti   yang dicontohkan nabi Muhammad saw,  tak boleh lebih atau kurang. Tetapi sebagai makluk yang  diajarkan untuk selalu menggunakan akal seperti yang banyak diisiratkan  dalam  ayat Al Quran, “ apakah kamu tidak berfikir, apakah kamu tidak mendengar, apakah kamu tidak melihat ” dan sebagainya maka  kita perlu membuka cakrawala berfikir yang lebih luas.  Salah satunya dengan menggali makna filosofi maupun manfaatnya secara langsung bagi kesejahteraan dan  kesehatan manusia.   Berupaya  memberikan kontribusi  kepada akal agar keyakinan yang telah tertanam di hati semakin kuat.  Sehingga terjalin sinergi  antara hati dan akal 
Di sisi lain, karena  Allah itu Maha Cerdas maka  segala sesuatu yang disyariatkan  kepada hambaNya tentu merupakan sebuah pusaran  ilmu pengetahuan yang    rumit, dimana kadang hanya dengan melihat  kita tidak tahu makna yang tersirat di dalamnya. Singkatnya  shalat bukanlah peristiwa yang begitu saja diturunkan  tanpa alasan yang memadai bagi kesejahteraan manusia. 
Dari jadwal waktu shalat saja para ilmuan telah menemukan kesimpulan bahwa ada keterkaitan yang erat antara “jam jam tubuh “ manusia dengan jadwal shalat lima waktu. Pada saat tubuh  mengalami kondisi terlemah  baik karena pengaruh alam maupun faktor internal,  maka pada saat itu manusia diberi kesempatan untuk memulihkan energinya dengan menghadap zat yang berenergi paling kuat yakni Allah. Ditemukan bahwa setiap 5-6 jam Hb dalam darah kita mengalami penurunan dan baru normal kembali setelah beberaa saat lamanya, ini sama  dengan interval jadwal shalat dari  subuh, dhuhur, asar, magrib  isya dan subuh. Pagi hari setelah beristirahat semalam kadar gula darah dan organ tubuh perlu persiapan  untuk diajak beraktifitas, maka shalat subuh sebagai pemanasan.  Kelelahan yang mendera   tubuh  berada di puncaknya  pada saat adzan dhuhur menggema. Menjelang sore atau malam hari terjadi perubahan gelombang elektris pada sistem jagad raya ( macro cosmis ) sehingga mempengaruhi tubuh manusia. Saat itulah kita diperintahkan untuk merebahkan kepala di sajadah pada saat shalat  asar dan magrib.  Ketika matahari tenggelam di ufuk barat segala yang tergelar di muka bumi  termasuk hewan, tanaman , semua benda tak hidup bahkan anginpun  tunduk dalam dzikir dan tasbih kepada penciptaNya.

  Ada gelombang tenaga yang mengalirkan hawa  ketenangan bila kita mau menikmati saat magrib datang  dan ini berlangsung sampai terdengar adzan isya.   Pengakuan atau evaluasi diri terhadap semua kesalahan yang tanpa sadar atau dengan sadar kita lakukan pada siang harinya dapat ditumpahkan saat shalat isya. Istigfar ini berefek terapis bagi kesehatan jiwa  dan  ketika berangkat tidur dada sudah lepas dari segala beban.  

 Alunan adzan yang sambung menyambung  setiap detik di berbagai belahan dunia sepanjang siang dan malam  karena bumi  berputar pada porosnya  dapat kita jadikan pembelajaran yang rekreatif . Ketika Fajar menyingsing di, bagian timur Sulawesi   sekitar pukul 05.30 WITA adzan subuh berkumandang. Proses ini berlangsung terus secara bergantian merambat sampai di bagian barat Indonesia. Ketika berakir ,segera adzan di Malaysia menyusul . Kemudian Burma sekitar satu jam setelah Jakarta mengumandangkan adzan subuh , berlanjut ke Dakka ibu kota Bagladesh.  Lalu merambah ke bagian barat India , dari Calcuta sampai Srinagar dan terus mengalun , menyusup Jantung kota Bombay. Bersamaan itu di Pakistan juga diserukan suara azdan karena mempunyai persamaan waktu dengan Srinagar . Sebelum  selesai maka azdan sudah  menghangatkan   udara    Afganistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara  Muscat dan Bagdad sekitar satu jam . Adzan berkumandang di Hijaaz al muqadas , dimana terdapat dua buah kota suci Mekkah dan Madinah, lalu ke Yaman, Uni Emirat arab, Kuwait dan Irak. Selisih waktu antara Bagdad dan Alexandria di Mesir adalah satu setengah jam. Kemudian  berlanjut ke angkasa Siria, Mesir, Somalia dan Sudan. Perbedaan waktu antara Barat Turki dan Timur Turki satu jam dan selama itu udara terus bergema   suara panggilan shalat. Barawal dari Libia panggilan untuk menggapai kemenangan ini menjadi penyejuk udara  seluruh Afrika hingga akirnya mencapai pantai timur  Samudra Atlantik , yang memakan waktu 9 jam. Sebelum menyentuh laut Atlaktik di Indonesia bagian timur telah memperdengarkan adzan dhuhur. Alangkah indahnya atmosfer bumi kita yang selau tergetar dengan lantunan keagungan  asma Allah setiap saat  (Mutiara Amaly, volume 59) .    





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar