Dengan adanya rencana pemerintah
bahwa mulai tahun 2010 Pendidikan
Agama Islam dimasukan dalam mapel yang
di UN-kan seperti yang diberitakan Rindang pada edisi April 2009 lalu, maka
ada satu tantangan yang cukup menggairahkan bagi para guru Pendidikan
Agama Islam untuk meningkatkan profesionalitas dalam proses pembelajaran . Minimal mengupayakan agar pelajaran PAI ,
dalam bahasan ini Fiqih , bisa memotivasi anak untuk giat mengkaji materi- materi
yang termuat di dalamnya dan tergerak untuk tekun menjalankan ibadah sesuai
dengan aturan yang benar.
Selama ini penguasaan
materi beserta teknis pelaksanaan syariat ( shalat, puasa ,zakat ,haji dan
lainnya ) menjadi indikator
pencapaian pembelajaran Fiqih. Dan ini
memang sangat perlu bahkan wajib
dikuasai guru dan dipahami murid. Saking seriusnya kadang Fiqih tampil sebagai mapel yang kering dan kaku
karena hanya bersentuhan dengan dalil, hafalan dan praktek saja. Padahal jika pembelajaran Fiqih terkesan kering akan membuat
siswa mudah bosan . Akibatnya akan lebih buruk lagi kalau perlahan siswa
siswa madrasah menjauh dari Fiqih, padahal dasar dasar ilmu syariat ini merupakan pintu pertama yang harus dilalui oleh
seorang muslim agar bisa mengamalkan
ajaran agama dengan benar dan sungguh sungguh. Maka upaya guru untuk membuat Fiqih
tampil sebagai mata pelajaran yang
menarik perlu dilakukan .
Bila kita memandang peta wilayah
Fiqih secara lebih luas maka akan kita dapati area yang merupakan wilayah pinggiran yang
biasanya kurang terjamah, tetapi justeru
sangat penting untuk dikaji dan
dijadikan alat motivasi pembelajaran dan
pelaksanaan syariat. Wilayah ini berpenghuni hal- hal yang berkaitan
dengan manfaat pelaksanaan ibadah ,
makna filosofis, hikmah ibadah dan
rahasia alam yang bertautan dengan
Fiqih. Sebagai contoh kita mengambil
bahasan tentang shalat. Mungkin
anak rajin menjalankan shalat lima waktu karena memang dari dahulu nenek
moyang dan lingkungan sekitar
melaksanakannya. Tidak terfikir , apa
manfaatnya baginya dan “alasan” ilmiah
kenapa Allah merintahkan manusia untuk shalat. Anak hanya sekedar rubuh- rubuh gedhang sehingga jangan
heran manakala dia berpindah ke
lingkungan yang tidak kenal shalat kemungkinan besar iapun meninggalkannya dengan enteng saja. Seperti tak ada beban , tak ada perbedaan
antara menjalankan atau tidak. Tak ada
makna yang ia peroleh dari ritual
ibadah yang selama bertahun tahun
dilakukan itu. Bagai melihat buah durian kita sekedar tahu
bahwa durian itu berduri maka kita harus
hati hati bila memegangnya tapi tidak beruasaha mencicipi rasa lezat buah dibalik kulitnya. Tentu saja durian tidak memberikan kepuasan
( ekstase ) yang membuat kita ketagihan untuk selalu memburunya jika
lezatnya tidak pernah singgah di lidah.
Justeru duri duri shalat yang menuntut kedisiplinan akan ketepatan jadwal waktu shalat akan terasa membebani ,
dan terkesan menjadi semacam perintah yang dogmatis belaka. Itu karena ibadah
yang dijalankan hanya menyentuh kulit , tidak sampai buahnya. Memang
shalat adalah sesuatu yang sakral sehingga pelaksanaannyapun harus sesuai
dengan rukun, syarat dan seperti yang
dicontohkan nabi Muhammad saw, tak boleh
lebih atau kurang. Tetapi sebagai makluk yang
diajarkan untuk selalu menggunakan akal seperti yang banyak
diisiratkan dalam ayat Al Quran, “ apakah kamu tidak berfikir,
apakah kamu tidak mendengar, apakah kamu tidak melihat ” dan sebagainya
maka kita perlu membuka cakrawala berfikir
yang lebih luas. Salah satunya dengan
menggali makna filosofi maupun manfaatnya secara langsung bagi kesejahteraan
dan kesehatan manusia. Berupaya
memberikan kontribusi kepada akal
agar keyakinan yang telah tertanam di hati semakin kuat. Sehingga terjalin sinergi antara hati dan akal
Di sisi lain,
karena Allah itu Maha Cerdas maka segala sesuatu yang disyariatkan kepada hambaNya tentu merupakan sebuah
pusaran ilmu pengetahuan yang rumit, dimana kadang hanya dengan melihat kita tidak tahu makna yang tersirat di
dalamnya. Singkatnya shalat bukanlah
peristiwa yang begitu saja diturunkan
tanpa alasan yang memadai bagi kesejahteraan manusia.
Dari jadwal waktu shalat saja para ilmuan
telah menemukan kesimpulan bahwa ada keterkaitan yang erat antara “jam jam
tubuh “ manusia dengan jadwal shalat lima waktu. Pada saat tubuh mengalami kondisi terlemah baik karena pengaruh alam maupun faktor
internal, maka pada saat itu manusia
diberi kesempatan untuk memulihkan energinya dengan menghadap zat yang
berenergi paling kuat yakni Allah. Ditemukan bahwa setiap 5-6 jam Hb dalam
darah kita mengalami penurunan dan baru normal kembali setelah beberaa saat
lamanya, ini sama dengan interval jadwal
shalat dari subuh, dhuhur, asar,
magrib isya dan subuh. Pagi hari setelah
beristirahat semalam kadar gula darah dan organ tubuh perlu persiapan untuk diajak beraktifitas, maka shalat subuh
sebagai pemanasan. Kelelahan yang
mendera tubuh berada di puncaknya pada saat adzan dhuhur menggema. Menjelang
sore atau malam hari terjadi perubahan gelombang elektris pada sistem jagad
raya ( macro cosmis ) sehingga mempengaruhi tubuh manusia. Saat itulah kita
diperintahkan untuk merebahkan kepala di sajadah pada saat shalat asar dan magrib. Ketika matahari tenggelam di ufuk barat
segala yang tergelar di muka bumi
termasuk hewan, tanaman , semua benda tak hidup bahkan anginpun tunduk dalam dzikir dan tasbih kepada
penciptaNya.
Ada gelombang tenaga yang mengalirkan
hawa ketenangan bila kita mau menikmati
saat magrib datang dan ini berlangsung
sampai terdengar adzan isya. Pengakuan
atau evaluasi diri terhadap semua kesalahan yang tanpa sadar atau dengan sadar
kita lakukan pada siang harinya dapat ditumpahkan saat shalat isya. Istigfar ini berefek terapis bagi kesehatan
jiwa dan
ketika berangkat tidur dada sudah lepas dari segala beban.
Alunan adzan yang sambung menyambung setiap detik di berbagai belahan dunia
sepanjang siang dan malam karena bumi berputar pada porosnya dapat kita jadikan pembelajaran yang
rekreatif . Ketika Fajar menyingsing di, bagian timur Sulawesi sekitar pukul 05.30 WITA adzan subuh
berkumandang. Proses ini berlangsung terus secara bergantian merambat sampai di
bagian barat Indonesia. Ketika berakir ,segera adzan di Malaysia menyusul .
Kemudian Burma sekitar satu jam setelah Jakarta mengumandangkan adzan subuh ,
berlanjut ke Dakka ibu kota Bagladesh.
Lalu merambah ke bagian barat India , dari Calcuta sampai Srinagar dan
terus mengalun , menyusup Jantung kota Bombay. Bersamaan itu di Pakistan juga
diserukan suara azdan karena mempunyai persamaan waktu dengan Srinagar .
Sebelum selesai maka azdan sudah menghangatkan udara
Afganistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Bagdad sekitar satu jam . Adzan
berkumandang di Hijaaz al muqadas , dimana terdapat dua buah kota suci Mekkah
dan Madinah, lalu ke Yaman, Uni Emirat arab, Kuwait dan Irak. Selisih waktu
antara Bagdad dan Alexandria di Mesir adalah satu setengah jam. Kemudian berlanjut ke angkasa Siria, Mesir, Somalia
dan Sudan. Perbedaan waktu antara Barat Turki dan Timur Turki satu jam dan
selama itu udara terus bergema suara
panggilan shalat. Barawal dari Libia panggilan untuk menggapai kemenangan ini
menjadi penyejuk udara seluruh Afrika
hingga akirnya mencapai pantai timur
Samudra Atlantik , yang memakan waktu 9 jam. Sebelum menyentuh laut
Atlaktik di Indonesia bagian timur telah memperdengarkan adzan dhuhur. Alangkah
indahnya atmosfer bumi kita yang selau tergetar dengan lantunan keagungan asma Allah setiap saat (Mutiara Amaly, volume 59) .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar