Senin, 19 Desember 2011

SASTRA DI SEKOLAH




Apresiasi sastra di Indonesia rendah, begitu dikatakan Max lane dalam seminar yang bertema “Pramoedya di Asia Tenggara” selasa 19 mei 2009 di Yogyakarta ( KR,24 mei 09). Max Lane ,seorang Indonesianis asal Austaralia ini  menyayangkan bahwa di Indonesia karya- karya sastra dan  tulisan para tokoh seperti Sukarno, Syahrir dan lainnya tidak diajarkan di sekolah. Hanya diajarkan sebatas siapa penulisnya dan judul, tidak dibedah dan didiskusikan secara mendalam. Dengan tidak dimasukkannya sastra di sekolah  mengakibatkan rendahnya apresiasi dan pemahaman kebangsaan Indonesia di benak siswa sebagai generasi penerus bangsa.  Hal ini berimbas pada stabilitas nasional bangsa yang rapuh.  Karya Pramoedya Ananta Toer,  katanya,  merupakan salah satu contoh yang kurang mendapatkan apresiasi di negeri  sendiri. Meski namanya cukup menggema namun hanya satu prosen  masyarakat Indonesia yang pernah membaca karyanya. Padahal di negeri tetangga yakni  Singapura , Filipina dan Malaysia karya yang telah diterjemakan dalam bahasa Inggris tersebut begitu digemari dan laris terjual . Karya karyanya mulai dari Bumi manusia sampai Rumah kaca , memperlihatkan kebangkitan Indonesia. Pramoedya  merupakan sejarawan yang paling radikal serta pelopor pembaharuan yang menganalisa sejarah Indonesia.
Mencermati apa yang dikatakan oleh Max tersebut   bagi penulis yang ikut berkecimpung dalam  dunia pendidikan , lantas timbul suatu pemikiran bahwa pengajaran sastra memang perlu diberikan dengan porsi yang lebih banyak  di sekolah dan  madrasah . Bukan sekedar diselipkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia seperti pada kurikulum  yang tengah kita laksanakan sekarang .  Ini karena  begitu jauh daya jangkau dunia sastra sehingga stabilitas suatu negarapun masih berkaitan erat   sastra .   Ungkapan kejujuran  dari seorang yang bukan warga asli Indonesia ini  membuat kita prihatin , menyaksikan  bangsa kita   kurang menghargai karya putra  bangsa sendiri,  padahal  jelas karya itu adalah karya yang begitu berbobot   terbukti di negara yang lebih “melek sastra ”  menjadi sesuatu yang bermakna, menjadi guru sekaligus referensi yang mahal.
Bagaimana siswa kita bisa berapresiasi terhadap karya sastra jika mengenal sastra saja hanya kulitnya ? Apalagi untuk mencintai , itu sungguh sulit dicapai jika tidak ada perhatian dari para pendidik dan pembuat kebijakan di bidang pendidikan.   Sastra menjadi barang  yang antik dan  tak banyak yang menyentuhnya mungkin karena orang memandang sastra adalah ranah  yang sulit dipahami karena  penuh dengan kaidah kaidah penulisan yang rumit. Atau juga sistem yang tidak mendukung anak- anak bangsa bersentuhan dengan sastra, misal orde baru yang dulu memang  ketat menyeleksi berbagai  buah pemikiran  yang berkaitan dengan perubahan sosial.  Indonesia adalah satu satunya negara yang tidak memasukan pengajaran sastra dalam kurikulum pengajaran di sekolah, ini jelas merupakan tembok penghalang dunia sastra dengan generasi penerus bangsa.
Dalam literasi budaya di negara kita sastra hanya dijadikan pajangan untuk  hiasan , kurang dipercaya untuk menjadi salah satu unsur pembangunan bangsa melalui pengembangan kepribadian .  Padahal sastra sangat potensial untuk menjadi warna dan penggerak kehidupan bangsa menuju kepada kemajuan.  Dalam berinteraksi  dengan sesamanya  maupun dengan  alam sekitar,  manusia akan menemukan nilai- nilai yang bisa digunakan untuk meraih kehidupan yang lebih baik, kristal dari nilai nilai itu terkumpul dalam  sastra. Jadi sastra adalah keluaran konstruksi budaya yang sudah dan sedang terjadi di masyarakat. Sebuah produk yang subyektif yang merefleksikan kondisi yang ada. Karena sastra adalah manifestasi dari keberadaan budaya masyarakat itu sendiri .Dimana ada manusia di situ pula sastra tumbuh. Memisahkna sastra dengan manusia berarti memisahkan manusia dari kebutuhan jiwanya.
 Sastra tentu saja sarat dengan estetika dan keindahan karena dunia sastra adalah dunia imajinasi yang bersentuhan dengan kelembutan jiwa.  Bicara dengan menggunakan  bahasa sastra berarti mengajak pembaca atau penikmat sastra untuk bicara melalui hati . Masuk dalam “dialog “ sastra ibarat mengajak seorang sahabat untuk memasuki sebuah taman yang penuh dengan bunga bermekaran.  Diiringi angin yang bertiup sepoi , cericit manja burung burung dan gemerisik jernih air yang mengalir , kita ajak sahabat duduk di bangku taman . Lalu bercerita tentang kesedihan yang menindih hatinya, kadang  suka cita yang membuat hidupnya bagai nyanyian merdu, atau  kegelisaan karena rindu pada kesejukan kasih Ilahi ,  bahkan tentang harga- harga kebutuhan pokok   yang terus mencekik leher  bisa di”curhat’kan di bangku taman. Sastra menciptakan ruang tersendiri sehingga antara penikmat  dan  pembuat karya  dipertemukan dalam suasana yang santai , tanpa terkesan  menggurui  tapi pembuat karya  bisa mempengaruhi pembaca. Tanpa merasa belajar tapi sesungguhnya pembaca telah menerima makna . 
Sastra adalah refleksi jiwa  setiap pembuatnya . Juga jawaban dari  pertanyaan pertanyaan yang diajukan imajinasinya . Dengan membaca  sastra  terbukalah ruang batin yang sedang dirasakan dan  ditawarkan  oleh penulisnya. Semangat Chairil Anwar untuk tetap menatap dunia  tergambar dalam “…aku ingin hidup seribu tahun lagi .” Suatu nutrisi batin  yang bisa dijadikan penguat dikala mental siswa jaman sekarang sedang   melempem.  Impian penyair besar itu memang terwujud,  terbukti karya- karyanya hidup sampai kini, menggema di setiap penikmat puisi- puisinya , mengalirkan darah perjuangan di nadi nadi kehidupan . Ruang imajinasi ini bagi anak- anak adalah sebentuk impian tentang dirinya.   Setiap anak yang hidup di rumah  mewah sampai di gubuk reot  mempunyai impian  meski mungkin impian itu sangat sederhana.  Betapa bahagia mereka  bila impian dan angan angan mereka kita berikan ruang untuk mendeskrepsikannya  dalam bentuk karya sastra. Namun bila tidak diarahkan imajinasi mereka bisa saja liar  menabrak norma atau tersumbat  di dalam   jiwanya.
 Puisi- puisi yang bersemangat kebangssaan dapat menimbulkan gairah nasionalisme pada siswa , terutama bagi anak-anak  usia madrasah ibtidaiyah dimana keceriaan mewarnai tiap langkahnya.   Cinta tanah air bisa disegarkan lagi dengan cara  membawa para siswa  terbang ke tahun dicetuskannya sumpah pemuda dimana pada saat  itu  atmosfer bumi Indonesia penuh dengan kobaran semangat kemerdekaan dan persatuan. Lihatlah semangat kebangsaan yang digaungkan Muh Yamin, bapak yang aktif dalam pergerakan nasional,  ahli sejarah , budayawan dan tokoh Sumpah Pemuda  dalam puisinya .
Lihatlah kelapa melambai lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai berai
Mendengar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengajari ayah dan ibu
Indonesia namanya, tanah airku.
Tanahku berderai seberang menyeberang
Mengapung di air malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kembang
Sejak malam di hari kelam
Sampai purnama terang benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menumpang
Selama berteduh di dalam nan lapang

Tanah darah nusa-india
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi di atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai  bercerai badan dan naywa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air Indonesia
Menengok peran sastra di dalam sejarah, kita   dapati bahwa  sastra erat kaitannya dengan perjuangan  Islam di tanah Arab.  Surat surat yang dikirimkan kepada raja- raja untuk bekerjasama atau mengajak pada jalan Islam ditulis dengan syair  yang indah . Ini tentu saja berpengaruh pada psikologis sehingga sentuhan keindahan yang sesuai dengan ajaran Al Quran perlahan menjadi oase dan daya tarik bagi para penguasa yang garang  pada saat itu.   Syair yang dahulu banyak digunakan untuk memuja kelebihan suku mereka sendiri dan para berhala ,  di tangan umat Islam dimuliakan  fungsinya menjadi alat untuk berdakwah. Bahkan dalam perang salib kemenangan umat Islam diantaranya karena dukungan syair syair yang membakar semangat jihad.  Setelah  Nabi wafat pada peringatan kelahiran dibuatlah syair melalui  lomba yang kemudian  lahirlah  kitab Al barzanji yang sampai sekarang sering kita baca. Di dalamnya berisi sanjungan terhadap kemuliaan aklaq nabi ,  sejarah perjuangan serta riwayat singkat kelahiran beliau  yang dituangkan dalam  syair Arab . Di  sekitar Jawa dan Malaka sastra yang berkembang pada abad 17 menurut isinya dibedakan dalam beberapa jenis, antara lain hikayat,  suluk, babad dan syair . Hikayat dapat kita lihat pada karya Rawaun, Amir hamzah dan Si Miskin dan Hang Tuah. Sedang suluk yang merupakan kitab yang membahas tasawuf misalnya Malang Sumirang dan wujil. Babad misalnya  Sejarah Melayu dan Tanah Jawi serta Si Burung Pingai karya Hamzah Fansuri adalah  contoh syair.
Untuk memberikan pengajaran sastra yang baik di madrasah tentu diperlukan kondisi yang memungkinkan berkembangnya pelajaran sastra pada siswa. Antara lain kurikulum yang mendukung,   pendidik  profesional  yang mempunyai kecintaan terhadap sastra dan metode pengajaran yang membangkitkan minat anak terhadap sastra. Selain itu fasilitas yang berupa buku- buku sastra hendaknya disediakan karena bagaimanapun tingginya teori sastra bila tidak diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan dengan terarah maka tidak akan berguna. Buku  karya sastra adalah kiblat yang bisa memberikan gambaran riil sebuah karya , sebagai bahan referensi dan juga latihan berapresiasi dalam pembelajaran.   Menurut referensi di Jepang sastra telah diberikan sejak tingkatan sekolah dasar . Tiap- tiap anak diberikan buku kusus yang digunakan untuk mengarang, dimana anak bebas berkreasi dan menuangkan idenya pada buku tersebut. Hasilnya setelah usia sepuluh tahun mereka sudah bisa membuat komik sederhana. Wajar jika kemudian komik Jepang mendapat penggemar dari berbagai penjuru negara.  Di Amerika buku buku sastra dibedah secara langsung kepada siswa yang usianya sesuai untuk pemahaman karya tersebut, sehingga mengapresiasikan karya sastra bagi anak setingkat  sekolah menengah  menjadi tugas yang relatif mudah untuk diselesaikan . Sedang di Indonesia,  kurikulum yang memberi kesempatan cukup  untuk hidupnya sastra di sekolah saja belum dibuat. Semoga menjadi perhatian para pembuat  kebijakan di bidang pendidikan













Tidak ada komentar:

Posting Komentar