Apresiasi sastra di Indonesia
rendah, begitu dikatakan Max lane dalam seminar yang bertema “Pramoedya di Asia
Tenggara” selasa 19 mei 2009 di Yogyakarta ( KR,24 mei 09). Max Lane ,seorang
Indonesianis asal Austaralia ini
menyayangkan bahwa di Indonesia karya- karya sastra dan tulisan para tokoh seperti Sukarno, Syahrir
dan lainnya tidak diajarkan di sekolah. Hanya diajarkan sebatas siapa
penulisnya dan judul, tidak dibedah dan didiskusikan secara mendalam. Dengan
tidak dimasukkannya sastra di sekolah
mengakibatkan rendahnya apresiasi dan pemahaman kebangsaan Indonesia di
benak siswa sebagai generasi penerus bangsa.
Hal ini berimbas pada stabilitas nasional bangsa yang rapuh. Karya Pramoedya Ananta Toer, katanya,
merupakan salah satu contoh yang kurang mendapatkan apresiasi di negeri sendiri. Meski namanya cukup menggema namun
hanya satu prosen masyarakat Indonesia
yang pernah membaca karyanya. Padahal di negeri tetangga yakni Singapura , Filipina dan Malaysia karya yang
telah diterjemakan dalam bahasa Inggris tersebut begitu digemari dan laris
terjual . Karya karyanya mulai dari Bumi
manusia sampai Rumah kaca , memperlihatkan kebangkitan Indonesia. Pramoedya merupakan sejarawan yang paling radikal serta
pelopor pembaharuan yang menganalisa sejarah Indonesia.
Mencermati apa yang dikatakan oleh Max tersebut bagi penulis yang ikut berkecimpung
dalam dunia pendidikan , lantas timbul
suatu pemikiran bahwa pengajaran sastra memang perlu diberikan dengan porsi
yang lebih banyak di sekolah dan madrasah . Bukan sekedar diselipkan dalam
mata pelajaran Bahasa Indonesia seperti pada kurikulum yang tengah kita laksanakan sekarang . Ini karena
begitu jauh daya jangkau dunia sastra sehingga stabilitas suatu
negarapun masih berkaitan erat sastra
. Ungkapan kejujuran dari seorang yang bukan warga asli Indonesia
ini membuat kita prihatin ,
menyaksikan bangsa kita kurang menghargai karya putra bangsa sendiri, padahal
jelas karya itu adalah karya yang begitu berbobot terbukti di negara yang lebih “melek sastra
” menjadi sesuatu yang bermakna, menjadi
guru sekaligus referensi yang mahal.
Bagaimana siswa kita bisa berapresiasi terhadap karya sastra jika mengenal
sastra saja hanya kulitnya ? Apalagi untuk mencintai , itu sungguh sulit
dicapai jika tidak ada perhatian dari para pendidik dan pembuat kebijakan di
bidang pendidikan. Sastra menjadi
barang yang antik dan tak banyak yang menyentuhnya mungkin karena
orang memandang sastra adalah ranah yang
sulit dipahami karena penuh dengan
kaidah kaidah penulisan yang rumit. Atau juga sistem yang tidak mendukung anak-
anak bangsa bersentuhan dengan sastra, misal orde baru yang dulu memang ketat menyeleksi berbagai buah pemikiran yang berkaitan dengan perubahan sosial. Indonesia adalah satu satunya negara yang
tidak memasukan pengajaran sastra dalam kurikulum pengajaran di sekolah, ini
jelas merupakan tembok penghalang dunia sastra dengan generasi penerus bangsa.
Dalam literasi budaya di negara kita sastra hanya dijadikan pajangan
untuk hiasan , kurang dipercaya untuk
menjadi salah satu unsur pembangunan bangsa melalui pengembangan kepribadian . Padahal sastra sangat potensial untuk menjadi
warna dan penggerak kehidupan bangsa menuju kepada kemajuan. Dalam berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan
alam sekitar, manusia akan
menemukan nilai- nilai yang bisa digunakan untuk meraih kehidupan yang lebih
baik, kristal dari nilai nilai itu terkumpul dalam sastra. Jadi sastra adalah keluaran
konstruksi budaya yang sudah dan sedang terjadi di masyarakat. Sebuah produk
yang subyektif yang merefleksikan kondisi yang ada. Karena sastra adalah
manifestasi dari keberadaan budaya masyarakat itu sendiri .Dimana ada manusia di situ pula
sastra tumbuh. Memisahkna sastra dengan manusia berarti memisahkan manusia dari
kebutuhan jiwanya.
Sastra tentu saja sarat dengan estetika dan
keindahan karena dunia sastra adalah dunia imajinasi yang bersentuhan dengan
kelembutan jiwa. Bicara dengan
menggunakan bahasa sastra berarti
mengajak pembaca atau penikmat sastra untuk bicara melalui hati . Masuk dalam
“dialog “ sastra ibarat mengajak seorang sahabat untuk memasuki sebuah taman
yang penuh dengan bunga bermekaran. Diiringi
angin yang bertiup sepoi , cericit manja burung burung dan gemerisik jernih air
yang mengalir , kita ajak sahabat duduk di bangku taman . Lalu bercerita
tentang kesedihan yang menindih hatinya, kadang
suka cita yang membuat hidupnya bagai nyanyian merdu, atau kegelisaan karena rindu pada kesejukan kasih
Ilahi , bahkan tentang harga- harga
kebutuhan pokok yang terus mencekik
leher bisa di”curhat’kan di bangku
taman. Sastra menciptakan ruang tersendiri sehingga antara penikmat dan
pembuat karya dipertemukan dalam
suasana yang santai , tanpa terkesan
menggurui tapi pembuat karya bisa mempengaruhi pembaca. Tanpa merasa
belajar tapi sesungguhnya pembaca telah menerima makna .
Sastra adalah
refleksi jiwa setiap pembuatnya . Juga
jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang
diajukan imajinasinya . Dengan membaca
sastra terbukalah ruang batin
yang sedang dirasakan dan
ditawarkan oleh penulisnya.
Semangat Chairil Anwar untuk tetap menatap dunia tergambar dalam “…aku ingin hidup seribu
tahun lagi .” Suatu nutrisi batin yang
bisa dijadikan penguat dikala mental siswa jaman sekarang sedang melempem.
Impian penyair besar itu memang terwujud, terbukti karya- karyanya hidup sampai kini,
menggema di setiap penikmat puisi- puisinya , mengalirkan darah perjuangan di
nadi nadi kehidupan . Ruang imajinasi ini bagi anak- anak adalah sebentuk
impian tentang dirinya. Setiap anak
yang hidup di rumah mewah sampai di
gubuk reot mempunyai impian meski mungkin impian itu sangat
sederhana. Betapa bahagia mereka bila impian dan angan angan mereka kita
berikan ruang untuk mendeskrepsikannya
dalam bentuk karya sastra. Namun bila tidak diarahkan imajinasi mereka
bisa saja liar menabrak norma atau
tersumbat di dalam jiwanya.
Puisi- puisi yang bersemangat kebangssaan
dapat menimbulkan gairah nasionalisme pada siswa , terutama bagi anak-anak usia madrasah ibtidaiyah dimana keceriaan
mewarnai tiap langkahnya. Cinta tanah
air bisa disegarkan lagi dengan cara
membawa para siswa terbang ke
tahun dicetuskannya sumpah pemuda dimana pada saat itu
atmosfer bumi Indonesia penuh dengan kobaran semangat kemerdekaan dan
persatuan. Lihatlah semangat kebangsaan yang digaungkan Muh Yamin, bapak yang
aktif dalam pergerakan nasional, ahli
sejarah , budayawan dan tokoh Sumpah Pemuda
dalam puisinya .
Lihatlah kelapa melambai lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai berai
Mendengar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengajari ayah dan ibu
Indonesia namanya, tanah airku.
Tanahku berderai seberang menyeberang
Mengapung di air malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kembang
Sejak malam di hari kelam
Sampai purnama terang benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menumpang
Selama berteduh di dalam nan lapang
Tanah darah nusa-india
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi di atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai bercerai
badan dan naywa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air Indonesia
Menengok peran
sastra di dalam sejarah, kita dapati
bahwa sastra erat kaitannya dengan
perjuangan Islam di tanah Arab. Surat surat yang dikirimkan kepada raja- raja
untuk bekerjasama atau mengajak pada jalan Islam ditulis dengan syair yang indah . Ini tentu saja berpengaruh pada
psikologis sehingga sentuhan keindahan yang sesuai dengan ajaran Al Quran
perlahan menjadi oase dan daya tarik bagi para penguasa yang garang pada saat itu. Syair yang dahulu banyak digunakan untuk
memuja kelebihan suku mereka sendiri dan para berhala , di tangan umat Islam dimuliakan fungsinya menjadi alat untuk berdakwah.
Bahkan dalam perang salib kemenangan umat Islam diantaranya karena dukungan
syair syair yang membakar semangat jihad.
Setelah Nabi wafat pada
peringatan kelahiran dibuatlah syair melalui
lomba yang kemudian lahirlah kitab Al barzanji yang sampai sekarang sering
kita baca. Di dalamnya berisi sanjungan terhadap kemuliaan aklaq nabi , sejarah perjuangan serta riwayat singkat
kelahiran beliau yang dituangkan dalam syair Arab . Di sekitar Jawa dan Malaka sastra yang
berkembang pada abad 17 menurut isinya dibedakan dalam beberapa jenis, antara
lain hikayat, suluk, babad dan syair .
Hikayat dapat kita lihat pada karya Rawaun,
Amir hamzah dan Si Miskin dan Hang
Tuah. Sedang suluk yang merupakan
kitab yang membahas tasawuf misalnya Malang Sumirang dan wujil. Babad misalnya Sejarah Melayu dan Tanah Jawi serta Si Burung
Pingai karya Hamzah Fansuri adalah
contoh syair.
Untuk memberikan
pengajaran sastra yang baik di madrasah tentu diperlukan kondisi yang
memungkinkan berkembangnya pelajaran sastra pada siswa. Antara lain kurikulum
yang mendukung, pendidik profesional
yang mempunyai kecintaan terhadap sastra dan metode pengajaran yang
membangkitkan minat anak terhadap sastra. Selain itu fasilitas yang berupa
buku- buku sastra hendaknya disediakan karena bagaimanapun tingginya teori
sastra bila tidak diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan dengan terarah
maka tidak akan berguna. Buku karya
sastra adalah kiblat yang bisa memberikan gambaran riil sebuah karya , sebagai
bahan referensi dan juga latihan berapresiasi dalam pembelajaran. Menurut referensi di Jepang sastra telah
diberikan sejak tingkatan sekolah dasar . Tiap- tiap anak diberikan buku kusus
yang digunakan untuk mengarang, dimana anak bebas berkreasi dan menuangkan
idenya pada buku tersebut. Hasilnya setelah usia sepuluh tahun mereka sudah
bisa membuat komik sederhana. Wajar jika kemudian komik Jepang mendapat
penggemar dari berbagai penjuru negara. Di
Amerika buku buku sastra dibedah secara langsung kepada siswa yang usianya sesuai
untuk pemahaman karya tersebut, sehingga mengapresiasikan karya sastra bagi
anak setingkat sekolah menengah menjadi tugas yang relatif mudah untuk
diselesaikan . Sedang di Indonesia,
kurikulum yang memberi kesempatan cukup
untuk hidupnya sastra di sekolah saja belum dibuat. Semoga menjadi
perhatian para pembuat kebijakan di
bidang pendidikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar