Tersiarnya kasus penghinaan anak Sekolah Dasar di Sukabumi oleh teman-
temanya yang mengakibatkan dia mengakiri hidupnya sendiri mengusik hati penulis
untuk bertanya, apakah ini merupakan indikator adanya hubungan sosial yang tidak sehat di sekolah
sekolah? Terkait penyebabnya adalah rasa
sakit hati (hanya) karena potongan
rambutnya yang sering dijadikan bahan tertawaan teman temanya.
Kita tahu
bahwa salah satu fungsi lingkungan
sosial adalah melindungi anggotanya dari
berbagai ancaman fisik dan psikologis . Begitu juga sekolah , diharapkan bisa memberikan ruang sosial yang nyaman bagi tumbuhnya mental anak. Dengan bergabung dalam kelompok sosial
berarti seseorang dapat merasa aman dari kekerasan yang mugkin datang dari luar
maupun dari dalam kelompok sosial itu sendiri. Karena itu dalam pranata sosial
dijalankan aturan atau norma untuk menjaga kelangsungan dan keteraturan
peraulan di dalamnya. Sehingga
berkembang budaya tenggang rasa, kerukunan, gotong royong juga sikap sikap lainnya yang
membuat seseorang warga merasa terlindungi dan krasan di dalamya. Begitu juga
dalam lingkungan sekolah, dimana anak adalah bagian dari komumitas sosial
sekolah yang terdiri dari teman , karyawan , guru dan juga masyarakat sekitar.
Pada saat anak memasuki dunia keadaan mentalnya masih
labil, sehingga sedikit saja gangguan yang datang akan besar pengaruhnya . Apalagi jika mengusik harga dirinya
, misanya berupa ejekan . Menertawakan gaya rambut atau tingkah laku seseorang melalui
perkataan yang kasar merupakan tindak kekerasan yang menyakitkan hati ( emosional bullying)
dan kekerasan ucapan (verbal bullying).
Disamping itu ada berbagai kekerasan yang lain seperti kekerasan pada organ seks (sexual bullying),
perendahan ras atau keturunan ( racits bullying) dan kekerasan pada tubuh
(psysical bullying). Biasanya anak yang menjadi korban mempunyai postur
tubuh , penampilan atau tingkah laku yang tampak berbeda dengan teman-temanya.
Contohnya potongan rambut saja bisa membuat bahan ejekan seperti yang terjadi
pada kasus di atas. Disaat dilecehkan korban akan kehilangan harga dirinya yang
sangat ia banggakan bahkan harga diri adalah penanda bahwa ia hadir sebagai
individu yang diakui keberaannya sebagai anggota kelompok sosial. Ini bukan
masalah yang sederhana mengingat rasa kehilangan ini bisa menyeret pada depresi
yang berkepanjangan , apalagi bagi anak yang jiwanya masih labil karena proses
pencarian jati diri yang belum ditemukan. Kesakitan hati bisa terkompensasi dengan menyakiti orang
lain ( dendam) atau kebencian pada diri sendiri yang berujung bunuh diri. Yang
punya kekuatan untuk bertahan ia akan menyakiti orang lain terutama orang yang lebih lemah atau yang bisa
dikuasainya. Juga biasanya pelaku
kekerasan adalah anak yang sering mendapatkan perlakuan kasar, misal
pertengkaran di keluarga, lingkungan yang terbiasa mengguakan jalan kekerasan
untuk menyelesaikan masalah atau bahkan anak yang (hanya) menonton adegan kekerasan di televisi . Pengalaman
ini akan mengendap dalam pikiranya dan membentuk pola pikir bahwa kekerasan
adalah hal yang wajar dan jalan pemecahan masalah dalam pergaulan dengan
siapapun. Jadi kekerasan yang dilakukan pada korban akan menyebabkan
terbentuknya mata rantai kekerasan yang lain. Yang kuat menekan
yang lemah , si kaya meghina si miskin ,penguasa menindas si jelata ,
bagai hukum saja.
Jangankan pada anak – anak, di dunia orang dewasapun
pelecehan harga diri bisa mengakibatkan pembunuhan. Menurut sumber pemberitaan di Amerika dalam waktu lima tahun belakangan ini banyak ditemukan
kasus pembunuhan oleh pemuda pemuda terhadap teman- teman yang telah lama bergaul
dengan mereka. Setelah dicermati
ternyata diakibatkan oleh penghinaan yang dilakukan teman – temanya selama ini,
salah satunya ( hanya) karena pengucapan
bahasa Inggrisnya buruk. Penghinaan sesekali atau dua kali mugkin tidak terlalu membekas
di hati tetapi parahnya hal ini dilakukan selama bertahun tahun.
Sehingga luka yang menggores demikian dalam hingga timbulah dendam yang berakir
denga tindak krminal tersebut. Ini bila pelaku mempunyai kekuasaan atau
kemampuan untuk melampiaskan dendamnya bila tidak maka kompensasinya berupa ketidakberdyaan yang
berakir bunuh diri seperti kasus di
atas. Sementara pada tahun 2004 tercatat 86% siswa sekolah dasar dan 42 %
sekolah lanjutan mnegalami kekerasan oleh teman atau kakak kelasnya. Di
Indonesia yang baru terungkap secara gamblang pada kalangan pergurungan tinggi
dalam proses pengenalan orientasi kampus
. Untuk jenjang SD dan SLTP belum ada penelitian yang akurat walau kasus sudah bermunculan di
berbagai media massa.
Sekolah sebagai
salah satu ruang sosial bagi tumbuh kembangnya anak- anak punya peran yang cukup strategis untuk mengarahkan
anak anak kembali pada budaya yang mencegah atau meminimalkan terjadinya tindak kekerasan, kususnya verbal
bullyig dan emosional bullying . Muatan
pembelajaran moral terdapat pada
mata pelajaran agama dan pembentukan kepribadian, yakni PKN.
Walau begitu pada setiap mata pelajaran
bisa dimasukan unsur pendidikan moral
atau akhlaq untuk membentuk
sikap mental yang positif pada oranga lain. Misalnya dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial diarahkan
untuk tercapainya kemandiraian siswa
dalam menghadapi jaman yang terus melaju dalam perubahan. Memberikan
arahan kepada siswa agar dapat
membina hubungan sosial yang sehat
dengan teman, orang tua, guru dan juga masyarakat sekitarnya. Sementara
pelajaran agama memuat nilai yang membekali siswa agar memiliki kekebalan
menghadapi berbagai pengaruh yang mengepung
di sekitarnya. Selain nilai nilai
yang terkandung dalam pembelajaran agama, dalam budaya jawa sebagai kearifan
lokal terdapat banyak ajaran yang bisa
dipungut lagi. Misalnya dalam dunia pewayangan , pada saat dewa Ruci memberikan
wejangan kepada Bima dalam rangka mencari ilmu lahirlah ajaran berbudi dan setya legawa. Keduanya merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang murid yang sedang menacari ilmu
disamping syarat yang lain. Berbudi artinya seseorang hendaknya
berbuat baik kepada kepada sesama
karena keberhasilan kita sebenarnya tergantung dari dukungan orang- orang di
sekitar. Dukungan dan hubungan yang baik
dengan orang lain merupakan tangga yang akan mengantar pada tujuan yang kita
cita- citakan. Begitu juga cita cita orang lain memerlukan dorongan dari kita,
sehingga antar anggota masyarakat bagaikan satu tubuh yang saling bergantung . Bila kita tidak mempedulikan orang lain
maka dengan sendirinya jalan menuju keberhasilan akan terhambat. Inilah ruh
dari hubungan sosial yang sebenarnya. Yang di dalam Islam dikenal dengan
prinsip berjamaah. Sikap mental berbudi pada orang lain bisa terwujud
jika dibarengi dengahn sikap setya legawa,
maksudnya hati bersih dari prasangka terhadap pihak lain. Menerima dengan iklas
anugerah yang diberikan Tuhan pada kita dengan tetap melangkah ke arah
perbaikan nasib dan terhadap milik orang
lain tidak punya pamrih. Tidak mudah menjatuhkan kecurigaan pada orang lain,
menghormati perbedaan dan berdada lapang menerima pandangan yang berseberangan.
Dalam proses pembelajaran dapat diciptakan iklim yang memungkinkan
terjadinya interaksi intens antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan
siswa dengan lingkungan sekitar. Model pembelajaran yang memungkinkan
terjalinya kerukunan adalah inquiry dan discovery. Di sini siswa dilatih utuk memecahkan masalah bersama
sama sehingga tercipta suasana saling menghormati pendapat orang lain, belajar
mencaci jalan keluar bila ada konflik, dan memupuk persaudaraan . Melalui
hubungan yang terus terjalin diharapkan terkikisnya egoisitas secara perlahan
pada masing-masing siswa, seiring tumbuh
suburnya rasa empati , ikut merasakan
apa yang dirasakan orang lain. Pada tahap ini barulah kita bisa menikmati
indahnya kebersamaan, manisnya toleransi dan
betapa hangatnya ruang sosial yang kita huni. Bukankah sebenarnya sejak
lahir manusia sudah merupakan makluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri
tetapi merupakan mata rantai dari kehidupan di jagad raya ini ? Tuhan telah
mengajari melalui sistem penjagaan yang terus-menerus oleh malaikat sejak dalam
kandungan hingga sekarang. Tak terhitung jumlah komunitas malaikat yang
ditugaskan untuk menjaga kelangsungan hidup seseorang dari kandungan hingga
alam akherat. Allah mengajarkan dengan
memperlihatkan suatu jaringan kerja yang indah dan rapi dari tentara-
tentaranya itu , padahal sebenranya Allah jelas mampu tanpa bantuan
malaikat . Melalui jaringan bermilyar
-milyar sel dalam tubuh manusia ,terdapat pelajaran bahwa kebersamaan itu hal
yang mutlak diperlukan untuk terciptanya bangunan tubuh yang sehat. Kebahagiaan
ketika terpuasnya ego pribadi seseorang hanyalah kebahagiaan yang semu karena
begitu kepuasan itu tercapai maka tanpa hadirnya pihak lain hanya kesepian dan
kehampaan yang didapat . Keberadaan si kaya akan berarti bila ada si miskin
yang masih mau disedekahi. Sang guru merasa terhormat dan termotivasi jika
siswa siswa siap mendukung proses pembelajaran . Siswapun merasa bersemangat
jika guru memperhatikan perkembangan belajarnya. Jadi tugas kita adalah
memungut kembali nilai nilai kebersamaan yang rupanya mulai tersisihkan agar
kehangatan ruang sosial dapat kita rasakan dan tak ada lagi yang menjadi
korban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar