Rabu, 14 Desember 2011

MERAJUT KEBERSAMAAN DI SEKOLAH



Tersiarnya  kasus penghinaan  anak Sekolah Dasar di Sukabumi oleh teman- temanya yang mengakibatkan dia mengakiri hidupnya sendiri mengusik hati penulis untuk bertanya, apakah ini merupakan indikator adanya   hubungan sosial yang tidak sehat di sekolah sekolah?  Terkait penyebabnya adalah rasa sakit hati  (hanya) karena potongan rambutnya yang sering dijadikan bahan tertawaan teman temanya.
Kita  tahu bahwa  salah satu fungsi lingkungan sosial adalah melindungi anggotanya  dari berbagai ancaman fisik dan psikologis . Begitu juga sekolah , diharapkan  bisa memberikan ruang sosial yang nyaman  bagi tumbuhnya mental anak.  Dengan bergabung dalam kelompok sosial berarti seseorang dapat merasa aman dari kekerasan yang mugkin datang dari luar maupun dari dalam kelompok sosial itu sendiri. Karena itu dalam pranata sosial dijalankan aturan  atau   norma untuk menjaga kelangsungan dan keteraturan peraulan di dalamnya.  Sehingga berkembang budaya tenggang rasa,  kerukunan,  gotong royong juga sikap sikap lainnya yang membuat seseorang warga merasa terlindungi dan krasan di dalamya. Begitu juga dalam lingkungan sekolah, dimana anak adalah bagian dari komumitas sosial sekolah yang terdiri dari teman , karyawan , guru dan  juga masyarakat sekitar.
Pada saat anak memasuki dunia keadaan mentalnya masih labil, sehingga sedikit saja gangguan yang datang akan besar pengaruhnya .  Apalagi jika mengusik  harga dirinya  , misanya berupa ejekan . Menertawakan gaya rambut atau tingkah laku seseorang  melalui   perkataan  yang  kasar merupakan tindak kekerasan  yang menyakitkan hati ( emosional bullying) dan kekerasan ucapan (verbal bullying).   Disamping itu ada berbagai kekerasan yang lain seperti  kekerasan pada organ seks (sexual bullying), perendahan ras atau keturunan ( racits bullying)  dan kekerasan pada  tubuh  (psysical bullying). Biasanya anak yang menjadi korban mempunyai postur tubuh , penampilan atau tingkah laku yang tampak berbeda dengan teman-temanya. Contohnya potongan rambut saja bisa membuat bahan ejekan seperti yang terjadi pada kasus di atas. Disaat dilecehkan korban akan kehilangan harga dirinya yang sangat ia banggakan bahkan harga diri adalah penanda bahwa ia hadir sebagai individu yang diakui keberaannya sebagai anggota kelompok sosial. Ini bukan masalah yang sederhana mengingat rasa kehilangan ini bisa menyeret pada depresi yang berkepanjangan , apalagi bagi anak yang jiwanya masih labil karena proses pencarian jati diri yang belum ditemukan. Kesakitan hati  bisa terkompensasi dengan menyakiti orang lain ( dendam) atau kebencian pada diri sendiri yang berujung bunuh diri. Yang punya kekuatan untuk bertahan ia akan menyakiti orang lain terutama  orang yang lebih lemah atau yang bisa dikuasainya. Juga  biasanya pelaku kekerasan adalah anak yang sering mendapatkan perlakuan kasar, misal pertengkaran di keluarga, lingkungan yang terbiasa mengguakan jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah atau bahkan anak yang (hanya)  menonton adegan kekerasan di televisi . Pengalaman ini akan mengendap dalam pikiranya dan membentuk pola pikir bahwa kekerasan adalah hal yang wajar dan jalan pemecahan masalah dalam pergaulan dengan siapapun. Jadi kekerasan yang dilakukan pada korban akan menyebabkan terbentuknya mata rantai kekerasan yang lain. Yang kuat  menekan  yang lemah , si kaya meghina si miskin ,penguasa menindas si jelata , bagai hukum saja. 
Jangankan pada anak – anak, di dunia orang dewasapun pelecehan harga diri bisa mengakibatkan pembunuhan.  Menurut sumber pemberitaan  di Amerika dalam waktu lima tahun belakangan ini banyak ditemukan kasus pembunuhan  oleh pemuda pemuda  terhadap teman- teman yang telah lama bergaul dengan mereka.   Setelah dicermati ternyata diakibatkan oleh penghinaan yang dilakukan teman – temanya selama ini, salah satunya ( hanya)  karena pengucapan bahasa Inggrisnya buruk.  Penghinaan  sesekali atau dua kali mugkin tidak terlalu membekas di hati  tetapi parahnya  hal ini dilakukan selama bertahun tahun. Sehingga luka yang menggores demikian dalam hingga timbulah dendam yang berakir denga tindak krminal tersebut.  Ini   bila pelaku mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk melampiaskan dendamnya bila tidak  maka kompensasinya berupa ketidakberdyaan yang berakir  bunuh diri seperti kasus di atas. Sementara pada tahun 2004 tercatat 86% siswa sekolah dasar dan 42 % sekolah lanjutan mnegalami kekerasan oleh teman atau kakak kelasnya. Di Indonesia yang baru terungkap secara gamblang pada kalangan pergurungan tinggi dalam proses pengenalan  orientasi kampus . Untuk jenjang SD dan SLTP belum ada penelitian  yang akurat walau kasus sudah bermunculan di berbagai media massa.    
Sekolah  sebagai salah satu ruang sosial bagi tumbuh kembangnya anak- anak punya  peran yang cukup strategis untuk mengarahkan anak anak kembali pada budaya yang mencegah atau  meminimalkan terjadinya tindak  kekerasan, kususnya  verbal bullyig dan emosional bullying . Muatan pembelajaran moral  terdapat pada mata  pelajaran  agama dan pembentukan kepribadian, yakni PKN. Walau begitu  pada setiap mata pelajaran bisa dimasukan unsur  pendidikan moral atau akhlaq  untuk    membentuk  sikap mental yang positif pada oranga lain. Misalnya    dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  diarahkan untuk tercapainya  kemandiraian siswa dalam menghadapi jaman yang terus melaju dalam perubahan. Memberikan arahan   kepada siswa agar dapat membina  hubungan sosial   yang sehat  dengan teman, orang tua, guru dan juga masyarakat sekitarnya. Sementara pelajaran agama memuat nilai yang membekali siswa agar memiliki kekebalan menghadapi berbagai pengaruh yang mengepung  di sekitarnya.  Selain nilai nilai yang terkandung dalam pembelajaran agama, dalam budaya jawa sebagai kearifan lokal terdapat  banyak ajaran yang bisa dipungut lagi. Misalnya dalam dunia pewayangan , pada saat dewa Ruci memberikan wejangan kepada Bima dalam rangka mencari ilmu lahirlah ajaran berbudi dan setya legawa. Keduanya  merupakan syarat  utama yang harus dimiliki oleh  seorang murid yang sedang menacari ilmu disamping syarat yang lain.  Berbudi artinya seseorang  hendaknya  berbuat baik kepada  kepada sesama karena keberhasilan kita sebenarnya tergantung dari dukungan orang- orang di sekitar.  Dukungan dan hubungan yang baik dengan orang lain merupakan tangga yang akan mengantar pada tujuan yang kita cita- citakan. Begitu juga cita cita orang lain memerlukan dorongan dari kita, sehingga antar anggota masyarakat bagaikan satu tubuh yang saling bergantung . Bila kita tidak mempedulikan orang lain maka dengan sendirinya jalan menuju keberhasilan akan terhambat. Inilah ruh dari hubungan sosial yang sebenarnya. Yang di dalam Islam dikenal dengan prinsip berjamaah. Sikap mental berbudi pada orang lain bisa terwujud jika dibarengi dengahn sikap setya legawa, maksudnya hati bersih dari prasangka terhadap pihak lain. Menerima dengan iklas anugerah yang diberikan Tuhan pada kita dengan tetap melangkah ke arah perbaikan nasib  dan terhadap milik orang lain tidak punya pamrih. Tidak mudah menjatuhkan kecurigaan pada orang lain, menghormati perbedaan dan berdada lapang menerima pandangan yang berseberangan.
Dalam proses pembelajaran  dapat diciptakan iklim yang memungkinkan terjadinya interaksi intens antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan siswa dengan lingkungan sekitar. Model pembelajaran yang memungkinkan terjalinya   kerukunan adalah inquiry dan discovery. Di sini siswa dilatih utuk memecahkan masalah bersama sama sehingga tercipta suasana saling menghormati pendapat orang lain, belajar mencaci jalan keluar bila ada konflik, dan memupuk persaudaraan . Melalui hubungan yang terus terjalin diharapkan terkikisnya egoisitas secara perlahan pada masing-masing siswa, seiring  tumbuh suburnya  rasa empati , ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Pada tahap ini barulah kita bisa menikmati indahnya kebersamaan, manisnya toleransi dan  betapa hangatnya ruang sosial yang kita huni. Bukankah sebenarnya sejak lahir manusia sudah merupakan makluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri tetapi merupakan mata rantai dari kehidupan di jagad raya ini ? Tuhan telah mengajari melalui sistem penjagaan yang terus-menerus oleh malaikat sejak dalam kandungan hingga sekarang. Tak terhitung jumlah komunitas malaikat yang ditugaskan untuk menjaga kelangsungan hidup seseorang dari kandungan hingga alam akherat.  Allah mengajarkan dengan memperlihatkan suatu jaringan kerja yang indah dan rapi dari tentara- tentaranya itu , padahal sebenranya Allah jelas mampu tanpa bantuan malaikat  . Melalui jaringan bermilyar -milyar sel dalam tubuh manusia ,terdapat pelajaran bahwa kebersamaan itu hal yang mutlak diperlukan untuk terciptanya bangunan tubuh yang sehat. Kebahagiaan ketika terpuasnya ego pribadi seseorang hanyalah kebahagiaan yang semu karena begitu kepuasan itu tercapai maka tanpa hadirnya pihak lain hanya kesepian dan kehampaan yang didapat . Keberadaan si kaya akan berarti bila ada si miskin yang masih mau disedekahi. Sang guru merasa terhormat dan termotivasi jika siswa siswa siap mendukung proses pembelajaran . Siswapun merasa bersemangat jika guru memperhatikan perkembangan belajarnya. Jadi tugas kita adalah memungut kembali nilai nilai kebersamaan yang rupanya mulai tersisihkan agar kehangatan ruang sosial dapat kita rasakan dan tak ada lagi yang menjadi korban.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar